Retak yang Sama
Keano dan Seano, si kembar yang berbeda.
Banyak yang bilang mereka mirip, namun lain lagi bagi mereka yang bahkan tidak pernah sekalipun merasa demikian. Keduanya tumbuh sebagai anak yang menutup diri dari dunia luar, banyak luka yang di tutup rapat oleh Keano dan Seano.
Keano yang sedari kecil sudah belajar bahwa tarikan nafas itu adalah sebuah perjuangan, bukan hanya semata karena asmanya kambuh, melainkan karena dunia yang terasa terlalu berat untuk ia lalui. Keano menutupi lukanya dengan senyuman, banyak yang akhirnya menganggap Keano adalah anak yang hidupnya selalu berjalan baik-baik saja, namun tidak bagi Seano.
Di balik itu semua, Seano juga sama jauhnya dari kata baik-baik saja.
Jika Keano menyembunyikan luka di balik senyum, maka Seano menyimpannya dalam diam yang panjang. Ia tidak pandai berpura-pura. Matanya terlalu jujur untuk mengatakan semuanya baik-baik saja. Seano tumbuh dengan beban ekspektasi yang tak pernah ia minta. Setiap nilai harus sempurna, setiap langkah harus lebih unggul, setiap kesalahan terasa seperti vonis yang tak bisa diampuni.
Mereka adalah dua sisi dari cermin yang retak. Sama-sama terluka, hanya cara bertahannya yang berbeda.