Behind the Looking Glass: Snow White
Di dunia modern, ia hanyalah seorang mahasiswi aktif-pekerja keras, keras kepala, dan tidak terlalu berani untuk tunduk pada siapa pun. Hidupnya dipenuhi tuntutan, aturan, dan kemarahan kecil yang tak pernah dianggap penting. Hingga suatu malam, pertengkaran sepele tentang album K-Pop kesayangannya yang dibuang ibunya menjadi titik retak terakhir.
Dalam amarah, ia berkata: "Kalau begitu, biarkan aku pergi ke dunia lain saja."
Tak disangka, kata-kata itu menjadi doa.
Saat mengobrak-abrik tumpukan sampah di depan rumah, ia menemukan sebuah buku tua berdebu-Schneewittchen, versi asli yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Didorong rasa penasaran, ia membacanya hingga halaman terakhir dalam satu malam. Namun tepat saat kalimat penutup terlewati, dunia bergetar. Lemari pakaian roboh. Rasa sakit menghantam-lalu gelap.
Ia yakin dirinya telah mati.
Namun ketika membuka mata, ia justru terbangun di sebuah kamar megah, dikelilingi pelayan berpakaian kuno yang memanggilnya dengan gelar bangsawan. Dunia ini bukan mimpi. Ini adalah negeri dongeng Schneewittchen yang asli-versi yang kejam, berdarah, dan tak mengenal akhir bahagia.
Dan yang lebih mengerikan: ia bukan penonton.
Ia terlahir kembali di dalam kisah yang sudah ditakdirkan untuk berakhir tragis-kisah tentang kecantikan yang dibunuh, ibu yang iri pada anaknya sendiri, cermin yang tak pernah berdusta, dan kerajaan yang berdiri di atas kematian seorang putri.
Kini, dengan ingatan masa lalu dan keberanian yang tak pernah ia miliki di dunia sebelumnya, ia dihadapkan pada satu pilihan:
mengikuti alur cerita dan mati seperti yang seharusnya-atau menghancurkan dongeng itu dari dalam.
Karena di dunia ini, dongeng bukanlah tempat untuk bertahan hidup.
Dan Snow White... tidak pernah benar-benar terbangun.