Agatha Morgan Febiola, mahasiswi Manajemen Bisnis di Universitas Argada, orangnya santai, cuek, tapi selalu berusaha tenang menghadapi hidup kuliahnya yang kadang ribet.
Hidupnya yang biasa-biasa saja tiba-tiba jadi riuh ketika dia harus presentasi di mata kuliah pertama Statistika-dan penyebabnya adalah Gaven Renaldi, cowok sekelasnya yang tengil, usil, tapi diam-diam perhatian.
Gaven selalu punya cara bikin Agatha kesal sekaligus gemas. Tapi tanpa disadari, perhatian "teman sekelas" itu ternyata lebih dari sekadar basa-basi. Lambat laun, momen-momen jail, usil, dan lucu mereka bikin Agatha mulai merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar kesal.
Apakah akhirnya Gaven akan berhenti denial dan mengakui perasaannya yang lebih dari sekadar teman? Dan apakah Agatha akan membalas rasa itu? Ikuti kisah mereka yang penuh tawa, keusilan, dan momen manis ini!
____________________________________
🏅113 #Lovestory
🏅106 #Lovestory (19 jan 2026)
🏅 96 #Lovestory (20 jan 2026]
Hai para reader! ✨
Cerita ini 100% murni hasil imajinasi aku, jadi semua nama tokoh, tempat, kampus, jurusan, dan lain-lain ide aku sendiri. TOLONG JANGAN DICOPY YA!
Di sini kalian bakal ketemu Agatha yang santai tapi gampang kesel sama Gaven, cowok tengil tapi diam-diam perhatian. Mereka awalnya cuma teman sekelas, tapi siapa sangka beberapa prank, momen lucu, dan keusilan bisa bikin mereka makin dekat? 😏
Aku bakal update cerita sesuai mood, kadang cepat, kadang agak lama. Tapi semua bab selalu ditulis dari hati biar kalian bisa ikut senyum, kesel, dan baper bareng mereka. 💛
Kalau kalian suka sama ceritanya, jangan lupa like, komen, dan vote, supaya aku makin semangat nulis kelanjutan kisah Agatha & Gaven.
Happy reading, guys! ✨
Pernikahan yang didasari atas mandat orang tua membawa Pradipta dan Naysila ke dalam sebuah sandiwara panjang yang melelahkan. Di hadapan Rayden dan Alden, mereka adalah potret orang tua sempurna yang melimpahkan kasih sayang tanpa celah. Namun, begitu pintu kamar tertutup dan suara tawa anak-anak menghilang, kemesraan itu menguap begitu saja, menyisakan keheningan yang menyesakkan dan jarak yang tak kasat mata.
Pradipta merasa dua putra sudah lebih dari cukup untuk meneruskan garis keturunannya, sekaligus menjadi batas akhir dari kewajibannya sebagai suami dalam ikatan tanpa cinta ini. Dia mengunci rapat hatinya, memastikan tidak ada lagi ruang untuk kehadiran baru yang bisa memperumit keadaan. Baginya, komitmen mereka hanyalah sebatas membesarkan anak, bukan untuk saling memiliki seutuhnya.
Naysila bertahan dalam dinginnya sikap sang suami dengan ketulusan yang sulit dinalar, mencoba menelan pahitnya penolakan demi keutuhan rumah tangga yang mereka bangun di atas fondasi rapuh. Namun, takdir memiliki rencana lain yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. Satu kelalaian membawa mereka pada kenyataan yang paling dihindari oleh Pradipta.
Garis dua pada alat uji kehamilan itu menjadi awal dari babak baru yang penuh ketegangan, memaksa keduanya untuk menghadapi rahasia yang selama ini terkubur di balik sumpah yang tidak pernah diinginkan.
[Don't copy my story!]