Raised by Pressure adalah cerpen tentang dua kekasih nakal, Quiin dan I am, yang mencintai di bawah bayang-bayang penolakan orang tua. Dibesarkan oleh larangan, tekanan, dan stigma, mereka belajar bahwa cinta tidak selalu lahir dari restu, melainkan dari keberanian untuk bertahan.
Di antara percakapan sederhana dan malam-malam sunyi kota, cerita ini mengungkap hubungan yang tidak rapi, penuh luka, namun jujur. Bukan kisah cinta yang ingin diperbaiki; melainkan kisah tentang dua jiwa yang tetap memilih satu sama lain saat dunia memaksa mereka berpisah.
Sebuah cerita gelap-romantis tentang cinta yang dibentuk oleh tekanan, bukan dipatahkan olehnya.
Tanpa bicara sepatah kata pun, Axel berjalan menuju ranjang. Dia duduk di tepi kasur, memunggungi Lucia, lalu mulai melepas sepatunya.
Lucia gemetar hebat. Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus membantunya? Atau diam saja?
Axel menoleh ke samping, menatap Lucia yang sedang memeluk lututnya sendiri seperti landak ketakutan.
"Kenapa kau duduk di situ seperti patung?" tanya Axel, suaranya serak dan dalam.
"S-saya... menunggu instruksi, Tuan," cicit Lucia.
Axel mendengus. Dia berbaring telentang di kasur, mengambil tempat yang luas, menyisakan sedikit ruang untuk Lucia. Dia menatap langit-langit kamar yang tinggi.
"Berbaring," perintah Axel.