Indira Nebula Andarini adalah kecantikan yang tidak perlu diperkenalkan.
Ia hadir dengan rambut panjang yang sering dibiarkan tergerai, smiley eyes yang membuat orang merasa disapa bahkan sebelum bicara, tahi lalat kecil di bawah matanya seperti tanda baca yang Tuhan selipkan di wajahnya, lesung pipi yang muncul setiap ia tersenyum, dan gigi gingsul yang membuat senyumnya tidak pernah terasa membosankan.
Ia ceria, mudah tertawa, dan pintar secara akademis.
Nilainya rapi, catatannya wangi, dan namanya sering disebut guru dengan nada bangga.
Banyak yang menyukainya diam-diam maupun terang-terangan, tapi Indira selalu tampak aman, seolah hatinya sudah menetap di satu tempat sejak lama.
Lalu ada Arsa Bumantara
Arsa adalah kebalikannya.
Tubuhnya atletis, bahu tegap, dan langkahnya selalu pasti.
Ia kapten tim futsal sekolah, anak eskul yang lapangannya selalu ramai sorak-sorai.
Populer, ya. Tapi bukan tipe yang mengejar perhatian.
Wajahnya dingin, pikirannya logis, bicaranya seperlunya.
Ada karisma yang tidak dibuat-buat, mungkin karena ia tahu kapan harus memimpin dan kapan harus diam.
Banyak yang menyukainya juga, tapi Arsa tidak pernah memberi ruang lebih dari sekadar sopan.
Mereka Berdua sama-sama popular di SMA adi wijaya, tapi tak ada yang berani mendekati ataupun menyatakan perasaan pada mereka.
Yang membuat orang berhenti berharap bukan karena Arsa dan Indira pamer kemesraan.
Justru karena mereka terlalu tenang.
Dan satu sekolah tahu:
Arsa dan Indira sudah pacaran sejak SMP.
Tidak ada drama.
Tidak ada tindakan yang disengaja untuk membuat orang iri.
Hanya kebiasaan kecil Indira yang menunggu Arsa selesai latihan,
atau Arsa yang berdiri di samping Indira saat keramaian mulai berisik.
Perasaan mereka bukan untuk diumbar.
Tapi untuk disimpan.
Dipelihara.
Seperti sesuatu yang terlalu berharga untuk dijadikan tontonan.
Raka, laki-laki desa, hidup sederhana, pelarian utamanya cuma membaca novel. Dunia nyata terasa sempit, dunia fiksi terasa lebih masuk akal.
Suatu malam, ia membaca sebuah novel terkenal. Plotnya menurut dia dangkal, karakternya bodoh, dan konflik terasa dipaksakan. Ia memaki novel itu dengan emosi yang tidak proporsional, seolah mengutuk takdir karakter-karakternya.
Karma datang cepat dan absurd.
Raka mati.
Ia terbangun sebagai Leonard Aurelian Vireaux, putra keenam keluarga konglomerat paling berpengaruh di dunia.