Tinggal bersama teman ayah bukan bagian dari rencana hidup Emely Johnson (Lily)
Apalagi jika teman ayah itu adalah Arthur Leonard, pria dewasa yang hidupnya terlalu rapi, terlalu tenang, dan terlalu sulit untuk diganggu.
Sayangnya, Lily ahli dalam hal itu.
Sejak ayahnya pergi ke luar negeri, Lily terpaksa di titipkan di rumah Arthur.
Awalnya penuh drama.
Penuh aturan.
Penuh benturan.
Namun perlahan, perhatian berubah menjadi kebiasaan.
Kedekatan berubah menjadi dilema.
Dan Arthur mulai menyadari satu hal yang paling berbahaya...
Ia tak seharusnya merasa seperti ini.
Apalagi pada gadis yang dengan santainya memanggilnya -
"Uncle Leon."
Mampukah Arthur menjaga jarak,
atau justru Lily yang akan lebih dulu meruntuhkan semua batasan?
---
Living with her father's best friend was never part of Emely Johnson's (Lily) life plan.
Especially when that best friend is Arthur Leonard, a grown, composed man whose life is too orderly, too quiet, and far too difficult to disrupt.
Unfortunately, Lily happens to be very good at that.
When her father leaves the country for work, Lily is forced to stay under Arthur's roof.
What begins as constant bickering, endless rules, and small daily chaos slowly turns into something far more dangerous, attention that lingers, familiarity that feels too comfortable, and emotions that were never meant to exist.
Arthur knows his boundaries.
Arthur understands his responsibility.
The problem is, Lily has never been good at keeping her distance.
And she's the only one who calls him-
"Uncle Leon."
Can Arthur hold the line,
or will Lily be the one to blur every boundary first?
||FOLLOW SEBELUM BACA!!!||
"Ini kamar aku, nggak boleh nyelonong masuk tanpa izin" tegas Ala, kesal karena ruang pribadinya diakses tanpa seizinnya.
Kai menutup pintu, mendekat ke arah Ala yang sedang berbaring di ranjangnya.
"Ih, jangan naik" larangan Ala lagi-lagi diabaikan oleh pria itu.
Ala memberenggut kesal, pria kaku itu bahkan sudah bergabung di bawah selimut yang ia pakai.
"Sejak kapan suami istri punya kamar sendiri-sendiri?" bisik Kai tepat di belakang telinga Ala.
Ala merinding kegelian karena hangat hembusan nafas Kai.
"Sejak sekarang" pekik Ala begitu berhasil melarikan diri dari dekapan Kai. Dia berlari ke luar kamar, meninggalkan Kai yang tertawa puas setelah berhasil menggoda dirinya.
Masih terasa jejak usapan tangan Kai di perutnya tadi. Ala khawatir, apakah pria itu sudah tahu?
***
Cerita ini tentang dua sejoli yang hidup bertetangga namun tidak saling mengenal. Mereka bertemu karena sebuah insiden, hingga akhirnya semakin dekat dan mulai nakal tipis-tipis 🔞
⚠️⚠️⚠️
Terdapat beberapa konten dewasa eksplisit dan kata-kata vulgar, silahkan skip jika tidak berkenan. Bijaklah memilih bacaan.
JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN KARENA BACA CERITA INI GRATIS.
JANGAN JADI SILENT READER!