" Nama mu sekarang adalah cakra, cakrawala. Ayo kita bertemu dengan kakak kakak mu. "
Cakra dikelilingi oleh sepasang kekasih yang menatapnya dengan hangat. salah satu dari mereka, seorang wanita mengulurkan tangan. Cakra dengan perlahan mengambil tawaran itu. hangat serta kokoh.
Cakra berdiri di rumah besar setelah melakukan perjalanan yang cukup lama di mobil. cakra menatap sendu, Cakra mengepalkan tangannya, gugup? jelas.
"Cakra jangan khawatir ya, kakak kakak mu pasti menunggu mu di dalam. " ucap seorang pria yang mengelus Kepala Cakra.
"Bintang, Langit kemarilah sayang! adik kalian sudah datang ! . "
derap langkah kaki terdengar, teriakan bernada tinggi khas anak-anak terdengar.
"MAMA PAPA!. "
"MAMA PAPA!. "
Dihadapan Cakra, dua anak laki-laki sepantaran nya, ah tidak , kata wanita dan pria itu mereka adalah kakak kakaknya, jelas mereka akan lebih tua darinya. Cakra gelisah ketika kedua anak laki-laki itu berhenti dan menatapnya tanpa senyuman, namun kegelisahan nya tergoyah ketika kedua anak laki-laki itu berlari dan memeluknya secara bersamaan hingga kaki Cakra tidak menyentuh tanah.
" selamat datang, adik!. " ucap keduanya
" Cakra, namanya Cakrawala sayang. "ucap sang wanita membenarkan kedua putranya.
" selamat datang, Cakra!. "
'''''
Tapi takdir berkata lain, Cakra hanya bertahan 1 tahun. Mama bilang " Cakra sudah pulang ke rumahnya, sayang. "
Apa maksud mama? ini adalah rumah Cakra. kenapa papa menjawab, " Cakra pulang ke rumah Cakra yang asli.. "
Tiga tahun Jeselyn Ananta menghabiskan waktunya mengejar bayang-bayang tunangan nya, Leon Gamalio. Baginya, Leon adalah segalanya.
Namun, malam itu mengubah segalanya.
Hantaman keras sebuah truk di persimpangan jalan gelap membuat nya berada di ambang maut, dalam koma yang panjang, jiwa Jeselyn melayang masuk ke sebuah masa depan yang tak pernah ia bayangkan.
Ia melihat dirinya sendiri dalam versi yang lebih dewasa, lebih rapuh, dan hancur di tengah kemewahan sebuah rumah megah.
"Mau ke mana lagi?" tanya Jeselyn masa depan dengan suara serak akibat tangis.
"Menemani wanita yang sedang mengandung anakku," jawab Leon dingin, tanpa sedikit pun menoleh.
Kenyataan pahit itu menghujam jantung Jeselyn. Pernikahan yang ia impikan ternyata hanyalah penjara tanpa cinta.