Ia mengusap sudut wajahnya yang masih menyisakan hangat menandakan refleks yang terlalu jujur untuk disembunyikan. Ia mencoba memastikan bahwa apa yang barusan terjadi... benar-benar terjadi.
Di saat yang sama di dalam ruangan, Neris menutup jendela. Seperti seseorang yang sedang menutup pintu dari badai, padahal badai itu sudah telanjur masuk ke dalam dirinya. Kait pengunci berbunyi.
Ia tidak menoleh kembali. Tidak membuka lagi meski ketukan mulai terdengar.
Sekali. Dua kali. Hingga berkali-kali.
"Zerith-"
Suara itu teredam oleh kaca, tetapi tetap sampai. Sementara Neris berdiri kaku, hanya menampakkan punggungnya menghadap jendela. Tangannya masih menekan bingkai, seolah jika ia lepas akan mudah goyah. Ia takut tidak akan mampu menghentikannya untuk kedua kali.
"Periksa perbatasan dengan baik," ucapnya akhirnya, suaranya dingin-memaksakan diri agar terlihat biasa "jangan pikirkan hal tak berguna!"
Setiap kata jatuh seperti bilah yang disengaja untuk melukai. Nyatanya berhasil mengubah ketukan itu menjadi hening, tetapi bukan sunyi yang kosong. Melainkan sunyi yang dipenuhi sesuatu yang tertahan terlalu lama.
Tangan Edryn mengepal di sisi tubuhnya. Rahangnya mengeras. Matanya berair, tetapi ia tidak akan membiarkannya jatuh. Di balik kaca, bayangan Neris terlihat sama. Terasa sangat dekat, sayangnya seperti tak tersentuh. Seperti mimpi yang bisa dilihat, tapi tak bisa digenggam. Edryn menunduk perlahan. Napasnya keluar berat, selayaknya membawa sesuatu yang terlalu penuh untuk ditahan sendiri.
"Jangan-pikirkan hal tak berguna..." gumamnya pelan, hampir tak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri.
Senyum tipis terbentuk di bibir tipisnya. Kalimat Zerith sebelumnya terus terngiang-ngiang di kepala membawanya kembali ke dasar sadarnya. Mata berkaca-kaca sebelum mengucapkan kalimat untuk menghibur diri.
"Ya, bukankah tugasku hanya melindungimu, Your Highness."
All Rights Reserved