MAHATMA : The Last Mercy

MAHATMA : The Last Mercy

  • WpView
    Reads 1,549
  • WpVote
    Votes 105
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Dec 17, 2025
Terlahir dengan marga Pangestu bukanlah suatu hal yang mudah. Mahatma Radenjaya Pangestu adalah putra pertama sekaligus cucu pertama dari pemilik firma hukum terbesar di Columbia. Dalam seharipun, Mahatma tidak pernah menjalani hidup tenteram. Dia dilatih untuk siap bertempur. Bukan hanya sebagai seorang Pengacara yang memberikan perlindungan kepada rekan. Melainkan juga sebagai Pemimpin dalam sebuah operasi hitam. Bertemu dengan Manggala Pradipta yang menyembunyikan identitas Sagaraksa dibalik namanya. Manggala adalah satu-satunya yang tersisa. Seluruh Sagaraksa tewas direnggut dalam operasi hitam. Bertahun-tahun ia melakukan tes untuk lolos menjadi Detektif, demi mengejar pelaku pembunuhan seluruh keluarganya. Namun siapa sangka? Pengacara yang begitu ia kagumi di meja pengadilan setiap kali ia menangani sebuah kasus, ternyata adalah dalang dibalik operasi hitam? 29032025 • copyright (LEAH)
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Salah Status
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Kembang Desa (Hiatus)
  • Nakula
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Prahara Lamaran [END]
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines