The Panic Marriage

The Panic Marriage

  • WpView
    Reads 310,632
  • WpVote
    Votes 9,063
  • WpPart
    Parts 70
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jul 7, 2026
"Pak Juna! Tolongin aku! Nikahin aku!" Demi terlihat sukses di Jakarta, Sela berbohong. Katanya punya rumah, padahal cuma nyewa satu kamar. Ketika orang tuanya datang tanpa kabar, kebohongan itu berubah jadi skandal. Seorang pria ditemukan di kamar. Satu ultimatum dijatuhkan: Nikahi anak saya! Tanpa cinta. Tanpa rencana. Hanya keputusan yang diambil saat panik, demi menutupi aib dan menyelamatkan nyawa. "Kamu menganut childfree?" "Enggak." "Mau punya anak berapa?" "Gatau. Selusin kali." "Bapak, Ibu," ucap Pak Juna tenang, "saya siap menikahi Sela."
All Rights Reserved
#14
wedding
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • Chasing Sanara
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Nala dan Mas Juragan
  • Almost Married (END)
  • De Andere Weg (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • The Last Yes!
  • DOMINEX | The Crime Lock

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines