Pernah jatuh...
Bukan karena cinta, tapi karena nama agama.
Ini bukan kisah romantis dengan akhir bahagia.
Tidak ada bunga-bunga asmara. Tidak ada pelukan hangat di senja.
Hanya luka, sunyi, dan perjalanan pulang yang panjang.
Radis tumbuh berbeda.
Tomboy, dijauhi, dibully, kepintarannya dimanfaatkan, lalu ditinggalkan saat tidak lagi dibutuhkan.
Luka itu ia bawa hingga remaja, hingga akhirnya hijrah di usia 16, bukan melalui pesantren, tapi melalui kesendirian dan pencarian panjang.
Ia belajar agama dari kajian online, menyebarkan dakwah lewat layar, namanya dikenal banyak orang.
Namun di titik itu, ia diuji lebih dalam lagi
oleh seseorang yang datang membawa gelar agama, namun meninggalkan trauma yang tak terlihat.
Cerita ini bukan untuk membenci, bukan untuk menghakimi.
Ini adalah peringatan dan pengingat:
Tidak semua yang bersuara tentang agama hadir untuk menjaga imanmu.
Ta'aruf bisa berubah menjadi luka jika dilakukan tanpa adab dan tanggung jawab.
Agama tetap suci, meski manusia yang membawanya bisa lalai.
Bagi yang sedang hijrah, sedang belajar mencintai Allah, atau pernah ditinggalkan oleh seseorang yang tampak paling memahami agama,
cerita ini mungkin adalah cerminan perjalananmu.
Bacalah hingga akhir, bukan untuk cinta, tapi untuk menemukan ketenangan.
Kadang, Allah menjauhkan seseorang bukan karena benci, tetapi untuk menyelamatkan imanmu.
By Raden Ajeng Maulani Kusmana
Sel, 16 Des 2025
All Rights Reserved