Ayah
  • WpView
    Reads 197
  • WpVote
    Votes 61
  • WpPart
    Parts 30
WpMetadataReadComplete Wed, Dec 17, 2025
"Keadilan hanya untuk mereka yang punya uang dan kuasa. Lalu, untuk apa kita yang tidak punya keduanya?" Nama saya Arman. Saya bukan pahlawan. Saya seorang ayah yang gagal. Gagal melindungi ibu saya, gagal melindungi putri saya, Naya, dari sistem yang menghancurkannya. Ketiap pintu pengadilan tertutup untuk orang seperti saya, hanya ada satu jalan yang salah: menjadi hakim, juri, dan algojo bagi para penindas. Ini bukan cerita tentang pahlawan. Ini adalah kisah tentang seorang manusia biasa yang, ketika didorong ke sudut paling gelap oleh kehidupan, memutuskan untuk melawan dengan cara yang paling kelam. Sebuah pengakuan dari seorang ayah yang memilih berdosa agar anaknya bisa hidup dalam terang. Ketika doa tak terjawab dan hukum bungkam, apa yang akan kau lakukan? DISCLAIMER Buku ini adalah karya fiksi. Semua karakter dalam buku ini adalah ciptaan imajinasi penulis. Nama, karakter, bisnis, tempat, peristiwa, dan insiden yang digambarkan adalah fiktif atau digunakan secara fiktif. Setiap kemiripan dengan orang, tempat, organisasi, atau peristiwa nyata, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, adalah kebetulan semata dan tidak disengaja..
All Rights Reserved
#30
pengadilan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • [End] Ending Words
  • 25 Tahun Usia Rawan? [END]
  • Awry [Lengkap]✔️
  • Lembayung
  • Ternyata Kita Sama
  • The Secret Love
  • Travelling Love [Selesai]
  • Rumah [LENGKAP]
  • Senandika Luka [Lengkap] ✔
  • Bubble Gum And Some Photo [END]

"Menurutmu, apa arti cinta yang sebenarnya?" tanya wanita itu. Kedua hitam matanya telah menunduk. Memperhatikan wajah pria yang sedang merebahkan kepala di atas pangkuannya. "Aku juga tidak terlalu mengerti. Cinta ... punya banyak arti dan bentuk. Dan bagiku, perasaan itu terlalu salah untuk aku rasakan," balasnya lembut masih dengan mata terpejam. Tidak ada lagi suara di antara mereka. Seakan mengerti perasaan masing-masing, baik si wanita maupun si pria terjebak dalam bayang pikiran sendiri. Terlalu sibuk merangkai dusta, sampai tak sadar bahwa keduanya saling menoreh luka satu sama lain.

More details
WpActionLinkContent Guidelines