The Maveric Code [end]

The Maveric Code [end]

  • WpView
    Reads 34
  • WpVote
    Votes 27
  • WpPart
    Parts 20
WpMetadataReadMatureComplete Mon, Dec 22, 2025
An mencoba berdamai dengan kenyataan. Rasa takut itu masih ada, namun insting untuk bertahan lebih kuat. Dengan susah payah, ia memaksakan dirinya untuk duduk, meraih buah apel di meja nakas. Ia tidak mengupasnya, langsung menggigit dengan gigitan kecil yang lemah. ​Tepat pada saat itu, pintu terbuka dan Avel masuk. ​Ekspresi Avel tidak terbaca, namun ketegangan di bahunya terlihat jelas. Ia mendekat, pandangannya terpaku pada apel di tangan An.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Girl Who Was Always Mine (S2)
  • Because I'm Your Mate
  • Kau milikku. Harum. selamanya
  • SUMMER RAIN✔
  • OUR BLOODY SECRETS
  • My Husband Is A Monster 2
  • Hades and His Obsession
  • TOXIC LOVE? - SASOSAKU
  • Princess and The Black Swan
  • My Husband Is A Monster

Seringai merayap di bibir Metawin saat dia melihat gadis itu mengumpulkan semua keberaniannya untuk menantangnya. "Keyakinan bukanlah masalah hal sepele, Yuki." Seiring dengan kata-katanya yang meluncur, Metawin berjalan selangkah lebih dekat. Bahu Yuki meringkuk ketakutan, tapi dia menolak untuk mundur. "Saya.... saya sungguh tidak bisa memahami Anda." "Tentang apa?" "Kenapa Duke sangat membenci saya?" Tidak seperti suaranya yang bergetar, Yuki menatap lurus ke arahnya dengan mata yang sangat jernih. "Membencimu membuatku merasa lebih baik." Metawin menjawab dengan tenang, mengangkat salah satu sudut bibirnya. "Rasanya luar biasa saat melihatmu menangis, dan menyenangkan melihatmu memohon." "Bagaimana Anda bisa mengatakan itu?" "Aku hanya menjawab pertanyaanmu." Metawin tampak lesu meskipun ekspresinya, yang berdiri di hadapannya, sudah berada di laut. Matanya berkaca-kaca karena penghinaannya, tapi Yuki berhasil menahan air matanya agar tidak jatuh. "Kamu tidak bertindak seperti ini pada orang lain selain aku." Metawin dengan rela mengangguk, "Benar." "Lalu kenapa hanya aku...." "Karena itu kamu." "Apa?" "Karena itu kamu, Yuki. Karena kamu bukan siapa-siapa." kata Metawin dengan acuh tak acuh. Suaranya yang tenang namun menohok membuat Yuki semakin merasa tidak mampu menahan air matanya dan menangis dengan sangat keras. credit : cry or better yet beg

More details
WpActionLinkContent Guidelines