Aruna datang ke Indonesia sebagai murid pindahan kelas sepuluh, membawa bahasa yang belum sepenuhnya ia kuasai dan masa lalu yang perlahan ingin ia tinggalkan. Di sekolah barunya, ia bukan lagi siswi terkenal seperti di China. Ia hanya murid baru yang lebih sering diam, menyimpan pikiran dalam bahasa yang orang lain tak pahami.
Aksa adalah kebalikannya. Ia dikenal semua orang di sekolah ini, tenang, berprestasi, dan selalu terlihat tidak membutuhkan siapa pun. Ketika Aruna duduk di bangku sebelahnya, pertemuan mereka dimulai tanpa percakapan panjang, hanya bantuan kecil dan kesabaran yang tidak disadari.
Aruna sering bergumam dalam bahasa Mandarin, menyembunyikan rasa, keluhan, dan kekaguman yang ia kira aman karena Aksa tidak mengerti. Ia tidak tahu bahwa Aksa memahami lebih dari yang ia perkirakan. Ia memilih diam, membiarkan bahasa itu menjadi ruang jujur bagi Aruna, sekaligus rahasia kecil yang hanya ia simpan sendiri.
Di antara dua kepopuleran yang berbeda, bahasa yang tak diucap, dan perasaan yang tumbuh pelan, mereka belajar bahwa cinta tidak selalu dimulai dari kata-kata yang jelas. Kadang, ia hadir dalam diam, dalam kesabaran, dan dalam bahasa yang tidak pernah diminta untuk diterjemahkan.
Meskipun Wonyoung dan Sunghoon adalah sepasang tunangan, namun Sunghoon tak pernah menerima Wonyoung dan bahkan menyuruh Wonyoung untuk 'Mati'. Ketika itu benar terjadi, dalam perasaannya akhirnya Sunghoon menyadari perasaannya bahwa ia mencintai tunangannya, namun sayang semua terlambat. Cinta Wonyoung hilang dan Sunghoon berusaha membuat Wonyoung jatuh cinta lagi padanya.