Sewu Rasa (On Going)

Sewu Rasa (On Going)

  • WpView
    Reads 203
  • WpVote
    Votes 74
  • WpPart
    Parts 20
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Apr 25, 2026
"Merayakan rasa, tanpa memaksa sama." Ada orang yang pandai mencintai, tapi tidak tahu cara berterima kasih. Ada orang yang selalu benar, tapi lupa caranya mendengar. Dan ada orang yang hidupnya keras, namun tetap memilih ramah pada siapa pun. Aren mengira hubungannya baik-baik saja. Dua tahun bersama, cukup lama untuk saling memiliki, tapi tidak cukup untuk saling mengerti. Hingga suatu hari, sebuah stand es krim sederhana di sudut Surabaya mengajarkannya satu hal kecil yang tak pernah ia pelajari: cara mengucap terima kasih dan maaf. Ale tidak pernah berniat menyelamatkan siapa pun. Ia hanya menjual es krim dengan rasa yang jujur, menyimpan pahit dan manis apa adanya. Tapi dari balik celemek pastel dan senyum yang tidak berisik, ia perlahan mematahkan ego seorang lelaki yang terlalu lama diam. Dan Thea, perempuan yang ingin dicintai dengan cara yang selalu sama, tidak siap kehilangan kendali. Di antara pertengkaran, tawa yang tidak disengaja, dan rasa es krim bernama Rona Aren, Sewu Rasa bercerita tentang cinta dewasa yang tidak selalu indah, tapi nyata. Tentang perasaan yang tidak dipaksa, tentang luka yang dibalut humor, dan tentang dua kata sederhana yang sering terlambat diucapkan. Karena tidak semua cinta butuh janji besar. Kadang, cukup dengan belajar mengerti.
All Rights Reserved
#18
romantisdewasa
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Nakula
  • Kembang Desa (Hiatus)
  • Prahara Lamaran [END]
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Salah Status

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines