Rintik
rintik
jatuh bukan sebagai hujan
melainkan jeda—
di antara napas tak sempat menjadi doa.
ia menulis dirinya sendiri
di kaca jendela sore
huruf-huruf bening yang gemetar
lalu luruh sebelum sempat dibaca
oleh siapa pun selain sepi.
aku mendengarnya
seperti dengar detak luka
pelan, berulang,
namun setia menumbuhkan perih
di sudut dada yenggan sembuh.
rintik itu sabar
mengajari bumi tentang kehilangan
tanpa teriak,
tanpa dendam
Hanya jatuh,
dan jatuh lagi,
hingga tanah paham
arti menerima.
pada setiap tetesnya
ada kenangan yang tidak jadi pulang,
ada nama yang disamarkan waktu,
ada harap Rintik
rintik
jatuh bukan sebagai hujan,
melainkan jeda—
di antara napas yang tak sempat menjadi doa.
ia menulis dirinya sendiri
di kaca jendela sore,
huruf-huruf bening yang gemetar,
lalu luruh sebelum sempat dibaca
oleh siapa pun selain sepi.
aku mendengarnya
seperti dengar detak luka:
pelan, berulang,
namun setia menumbuhkan perih
di sudut dada yang enggan sembuh.
rintik itu sabar,
mengajari bumi tentang kehilangan
tanpa teriak,
tanpa dendam.
Hanya jatuh,
dan jatuh lagi,
hingga tanah paham
arti menerima.
pada setiap tetesnya
ada kenangan yang tidak jadi pulang,
ada nama disamarkan waktu,
ada harap memilih menjadi basah
agar tak retak.
jika kau bertanya
mengapa senja tampak lebih murung hari ini
barangkali rintik sedang berdoa
dengan caranya sendiri:
menangis secukupnya,
lalu menghilang
tanpa meminta dimengerti.
dan aku,
belajar dari rintik
bahwa tidak semua yang jatuh
ingin diselamatkan
sebagian hanya ingin
diizinkan
meresap. memilih
menjadi basah
agar tak retak.
jika kau bertanya
mengapa senja tampak lebih murung hari ini,
barangkali rintik sedang berdoa
dengan caranya sendiri
menangis secukupnya,
lalu menghilang
tanpa meminta dimengerti.
dan aku,
belajar dari rintik
bahwa tidak semua yang jatuh
ingin diselamatkan;
sebagian hanya ingin
diizinkan
meresap.
Tangerang, 18 Desember 2025
- NH -
All Rights Reserved