Semua cerita dalam novel ini hanyalah fiksi. Jika terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, atau kejadian, itu semata-mata kebetulan dan tidak disengaja.
It was unintended, but it changed everything.
Naura pernah mencintai seseorang dengan cara paling sederhana: menemani.
Menemani Ares saat mimpinya masih sebatas rencana, saat rekeningnya nyaris kosong, saat dunia berkali-kali menutup pintu untuknya.
Ia hafal segalanya.
Bau kopi sachet di tengah malam.
Suara ketikan putus asa dari laptop yang dipaksa terus menyala.
Dan kamar kontrakan sempit yang menjadi saksi bagaimana Ares berjuang mengejar masa depan yang bahkan belum tentu datang.
Tapi Naura tetap ada.
Di setiap gagal.
Di setiap lelah.
Di setiap malam saat Ares nyaris menyerah pada hidupnya sendiri.
Setiap kali Ares menatapnya penuh rasa bersalah dan berkata,
"Maaf ya, aku belum bisa ngajak kamu hidup enak."
Naura selalu menjawab dengan tenang,
"Aku jatuh cinta sama kamu, Res. Bukan sama akhir indah yang belum tentu datang."
Dan Ares percaya itu.
Terlalu percaya.
Sampai hidup akhirnya berubah.
Sampai mimpi yang dulu mereka perjuangkan bersama perlahan hanya menjadi milik satu orang.
Sampai cinta yang dulu terasa cukup, mulai dipenuhi jarak, kecewa, dan luka yang tak pernah sempat diucapkan.
Karena ternyata, yang paling menyakitkan bukanlah bertahan saat semuanya sulit.
Melainkan saat seseorang yang kamu temani dari nol... perlahan meninggalkanmu ketika hidupnya mulai sempurna.
Ini bukan hanya tentang cinta.
Ini tentang pengorbanan, kehilangan, dan pahitnya kenyataan bahwa tidak semua orang yang berjuang bersamamu akan tetap tinggal di akhir cerita.
All Rights Reserved