Roommates, Maybe More [ Auwin ]

Roommates, Maybe More [ Auwin ]

  • WpView
    Reads 26,058
  • WpVote
    Votes 2,669
  • WpPart
    Parts 29
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 18, 2026
Auwia hanya ingin hidup tenang di asrama barunya setelah keluarganya berantakan. Tapi semua berubah ketika ia dipertemukan dengan Intan-gadis ceria dengan lesung pipi yang tak pernah berhenti berbicara. Dingin bertemu hangat. Sunyi bertemu tawa. Awalnya hanya dua orang asing yang berbagi kamar. Namun seiring waktu, hubungan mereka mulai berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah Auwia rencanakan. #Fiksi #On Going
All Rights Reserved
#70
jkt48
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain's Mother
  • The Last Yes!
  • Nala dan Mas Juragan
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Chasing Sanara
  • Almost Married (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • De Andere Weg (END)
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • DOMINEX | The Crime Lock

Ngintip doang nih? 😗 🔞 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines