Keluarga Vallete Immanuel dikenal sebagai keluarga yang hangat dan teratur. Aeryn Ellen Vallete Immanuel-atau Ellen-adalah putri pertama yang dikenal tenang, berempati, dan selalu dapat diandalkan. Dengan keluarga besar yang penuh kasih, rumah mereka sering menjadi tempat singgah bagi siapa pun yang membutuhkan kenyamanan.
Salah satu orang yang paling sering hadir adalah Vynara Victoria Kimmberly Ryder Vallencia, sahabat dekat Ellen sejak kecil. Vallen tumbuh sebagai gadis ceria dan penuh semangat, namun ia menyimpan kehidupan pribadi yang tidak selalu mudah. Di balik tawanya yang lebar, Vallen tengah berada dalam hubungan yang rumit dan penuh tekanan dengan pasangannya, Angkasa.
Perubahan sikap Angkasa-dari manis menjadi mudah curiga, mengontrol, dan sering menyakiti perasaan Vallen-membuat gadis itu semakin sering mencari perlindungan di rumah keluarga Immanuel. Di sana, ia diterima tanpa syarat oleh seluruh anggota keluarga, terutama Ellen.
Kedekatan mereka bukan sekadar pertemanan biasa. Ellen memahami Vallen tanpa perlu dijelaskan, sementara Vallen selalu merasa aman berada di sisi Ellen. Ketika rumor mengenai hubungan Angkasa dengan Kaeli menyebar di sekolah dan menjadi pembicaraan satu kelas, tekanan yang dirasakan Vallen semakin berat.
Di tengah berbagai gosip dan hubungan yang mulai retak, keluarga Immanuel menjadi tempat di mana Vallen menemukan kembali ketenangan. Dan tanpa ia sadari, seseorang yang selalu berada di sampingnya perlahan-lahan menjadi lebih dari sekadar sahabat.
Ini adalah kisah tentang keluarga yang menjadi rumah kedua, tentang persahabatan yang tumbuh dalam kehangatan, serta tentang keberanian seorang gadis untuk mengenali apa yang benar-benar membuatnya bahagia.
g×g
100% fiksi
jangan di bawa ke rl
"Nanti kalau aku udah---"
"Gosah ngomong aneh-aneh! Tuh, kamu lihat cahaya langit yang ada di atas sana?"
"Lampu mercusuar?"
"Ck, yang di langit, Oline! Bukan yang itu!"
"Hehe."
"Tawa lagi."
"Lucu tau liat kamu lagi marah-marah."
"Gak. Siapa yang marah-marah? Aku gak marah-marah."
"Oke, ada apa dengan langit yang di sana?"
"Ga ada apa-apa. Cuma nunjuk aja."
"Catherina."
"Hari ini, besok, lusa dan seterusnya. Kamu pasti selalu bisa lihat apa yang ada di sana."
"Why? Bukannya langit selalu berubah-ubah?"
"Ya, tapi cahaya bintang yang tersembunyi dibaliknya akan selalu berada di sana."
"Hemmmh?"
"I know you know, Oline."
Oline mengacak-acak pelan rambut Erine yang terikat namun gak sampai bikin berantakan. Dia sudah paham dengan maksud kekasihnya itu yang kalau mau ngungkapin perasaan itu gengsinya selangit. Untung Oline paham.
"Stay with me, baby."
_______________
"Kamu lapar ya?"
"Gak, kan barusan kita udah makan tadi."
"Kalau gitu aku yang lapar berarti."
"Kamu mah bukan laper. Tapi emang doyan makan."
"Kamu pasti ilfeel ya sama aku gara-gara aku suka makan?"
"Gak. Kalau aku ilfeel ngapain aku culik kamu ke sini."
"Mau buang aku mungkin?"
"Boleh. Tuker tambah sama gadis anime ya--- awwwh! Kenapa aku dicubit?"
Lily melepas pelukan mereka. Ceritanya dia ngambek terus jalan pelan di tanah bersalju.
Pluk!
Alih-alih merayu Delynn justru melempar salju memulai peperangan. Lily yang jago main game perang-perangan itu pun langsung saja membalas. Akhirnya mereka berdua malah main perang salju sampai ngos-ngosan.
"Sayang, udahan yuk. Aku mau makan. Sekarang udah laper beneran." Kata Delynn dengan beranjak duluan ke bangku taman terdekat. Tapi sebelum itu dia bersihkan dulu tempatnya dari tumpukan salju.
"Kok, buat aku gak dibersihin?" Tanya Lily menghampiri Delynn yang udah duduk duluan.
Delynn nepuk pahanya.
Lily nyengir dan dengan senang hati dia duduk dipangkuan Delynn.
Cup!
"Katanya lapar."
"Ini aku lagi makan."
Blush!
•••