Manhattan
  • WpView
    LECTURAS 30
  • WpVote
    Votos 3
  • WpPart
    Partes 6
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación jue, mar 12, 2026
Di Manhattan, pagi selalu datang terlalu cepat- sebelum kopi, sebelum kota benar-benar terjaga, sebelum hati siap menerima apa pun. Alina tidak mencari apa-apa selain rutinitas baru di kota asing. Pagi, bus, coffee shop kecil, dan keheningan yang terasa aman. Sampai suatu pagi, seseorang duduk di meja sebelah. Tidak banyak bicara. Tidak ada perkenalan. Hanya tatapan singkat yang tertinggal lebih lama dari seharusnya. Nathan juga tidak berniat mengubah apa pun. Manhattan sudah cukup ramai tanpa harus memberi ruang bagi orang lain. Tapi ada sesuatu tentang Alina-cara dia diam, cara dia hadir tanpa meminta perhatian-yang membuat pagi terasa berbeda. Di antara secangkir kopi dan jeda-jeda sunyi, dua orang asing perlahan saling menyadari. Bukan lewat pertemuan besar. Bukan lewat kata-kata berlebihan. Melainkan lewat hal-hal kecil yang tidak bisa diabaikan. Karena di Manhattan, kadang yang paling mengubah hidup datang... sebelum kopi.
Todos los derechos reservados
#407
alina
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Nala dan Mas Juragan
  • Beautiful Trouble
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Satu Tahun Saja
  • Kembang Desa
  • Almost Married (On Going)
  • WEDDING VOWS
  • Nakula
  • I'm the male lead's wife?
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain

Cerita ini ada di paijo juga. --- Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido