Bandung tidak selalu cerah. Dan tidak selalu gelap. Di antara dua itu, ada mendung-tempat di mana suara tawa pernah tinggal, sebelum perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih sunyi. Seorang anak tumbuh di tengah rumah yang pernah utuh, lalu pecah tanpa benar-benar diumumkan. Ia belajar bahwa keluarga tidak selalu runtuh dengan suara keras; kadang ia hilang perlahan, seperti lampu yang diredupkan satu per satu. Di tempat lain, dua saudara hidup dengan cara mereka sendiri-saling menjaga tanpa pernah benar-benar mengakui bahwa mereka saling peduli. Kata-kata mereka tajam, diam mereka lebih jujur daripada percakapan apa pun. Sementara di sudut lain kota, seseorang mencoba memahami mengapa hujan selalu terasa seperti tempat pulang, meski tidak pernah benar-benar menyembuhkan apa pun. Ini bukan cerita tentang keluarga yang sempurna. Ini tentang keluarga yang pernah ada. Tentang hal-hal yang tidak selesai, tetapi tetap hidup di dalam ingatan. Dan tentang satu pertanyaan sederhana yang tidak pernah benar-benar punya jawaban: apakah mendung selalu berarti akan hujan, atau hanya cara langit untuk diam lebih lama?
More details