
Dev," suara Senja tenang, namun ada ketegasan yang baru di sana. "Aku sudah pesan makanan satu jam yang lalu. Aku sudah menghabiskan kopiku sendiri. Dan aku sudah memutuskan untuk pulang sebelum kamu datang." Devan mengernyit. "Lho, kok gitu? Aku kan sudah bela-belain ke sini nembus hujan." "Itu dia masalahnya," potong Senja lembut. "Kamu merasa 'bela-belain' untukku adalah sebuah beban, sementara untuk orang lain itu adalah kewajiban. Aku merasa setiap hari aku harus memaklumi kamu, mengecilkan suaraku supaya tidak terdengar seperti pengeluh, dan memangkas waktuku supaya cocok dengan sisa-sisa waktumu." Senja berdiri, meraih tasnya. Di titik ini, ia merasa seperti sedang berdiri di ujung lorong buntu dalam labirin yang ia bangun sendiri. "Aku bukan lagi prioritas yang kamu pilih, Dev. Aku cuma sesuatu yang kamu simpan untuk nanti kalau kamu sedang senggang. Dan aku baru sadar, aku pantas mendapatkan lebih dari sekadar sisa-sisa." "Senja, tunggu!" Devan mencoba meraih tangannya, namun Senja menghindar dengan halus. "Jangan hubungi aku dulu," ucap Senja sebelum melangkah keluar ke arah hujan. "Aku mau mencoba belajar cara untuk merasa besar lagi tanpa harus mengandalkan pengakuan darimu."All Rights Reserved
1 part