Ada sebuah ungkapan dalam bahasa Portugis: Ele dobra o Cabo da Boa Esperança. Artinya, "Dia mengitari Tanjung Harapan." Ironisnya, ungkapan ini mengandung makna bahwa seseorang berada di fase akhir hidupnya, bahwa ia tidak mampu menyelesaikan apapun lagi.
Ketika semua berjalan tak sesuai rencana dan luka terasa ada di mana-mana, sebagian orang memilih untuk menyerah. Banyak pertanyaan muncul tentang pilihan Itu, mengapa harus menyerah? Mengapa tidak bersyukur telah lahir ke dunia? Bukankah semua orang juga lelah dan terluka?
Namun, tahukah kamu?
Mereka yang ingin mengakhiri hidupnya justru adalah orang-orang yang paling ingin hidup. Mereka bukan haus akan perhatian atau belas kasihan. Mereka hanya merasa lelah... terlalu lelah untuk terus bertahan dibalik luka, penderitaan, bahkan penolakan yang perlahan menggerus mental.
Perkenalkan, ini Ara bukan aku. Dia Apin bukan pula Renjun.
Apin hadir sebagai penawar luka, muncul di detik-detik paling akhir dalam hidup Ara. Di saat semuanya hampir selesai, satu kehadiran mengubah segalanya.
Dear Are adalah cerita tentang luka, kelelahan, dan tentang seseorang yang datang tepat sebelum segalanya benar-benar berakhir.
Ini tentang Samudra Cayapata, laki-laki yang kehadirannya harus dibenci oleh sang ibu. Kejadian 18 hingga 5 tahun yang lalu membuat Kemala Armila-sang ibu semakin membenci kehadiran Samudra.
Hingga pertemuan Samudra dengan perempuan bernama Bena Senjana membuat kehidupan Samudra lebih berwarna, namun semua yang telah tersembunyi selama bertahun-tahun sedikit demi sedikit mulai terkuak. Sebenarnya apa rahasia yang disembunyikan itu?
"Bunda... Peluk Samudra sekali saja"