Bagi kebanyakan orang, kelulusan SMA adalah gerbang menuju kebebasan. Namun bagi Felicia Kala, itu adalah lonceng kematian bagi impiannya. Di balik tubuhnya yang berisi dan senyum ceria yang selalu ia pamerkan kepada dunia, Felicia menyimpan rahasia yang membusuk: sebuah rumah yang lebih menyerupai neraka.
Alih-alih merayakan gelar sarjana yang ia idamkan, Felicia harus menelan pahitnya kenyataan. Ia miskin, tak berayah, dan terjebak bersama seorang ibu yang lisannya lebih tajam dari sembilu. Saban hari, telinganya menjadi tempat sampah bagi makian dan nama-nama hewan yang dilontarkan sang ibu tanpa belas kasihan.
"Anak tak berguna! Hanya tahu menghabiskan nasi!" adalah lagu pengantar tidurnya.
Kini, dengan ijazah SMA di tangan dan saku yang kosong, Felicia melangkah gontai menyusuri jalanan kota. Ia terombang-ambing di antara rasa lapar, trauma masa lalu yang terus menghantui, dan kebingungan mencari kerja demi menyambung nyawa.
Di tengah keputusasaan itu, takdir membawanya berdiri di depan gedung pencakar langit milik Argantara Group. Felicia tidak tahu bahwa di balik pintu kaca itu, ada sosok Arkananta Argantara-pria sedingin es yang mungkin akan menjadi malaikat penyelamatnya, atau justru menjadi ujian baru bagi jiwanya yang sudah hancur.
"Pak Arkananta tahu kenapa saya suka tersenyum? Karena kalau saya menangis, ibu saya bilang saya mirip babi yang sedang disembelih. Jadi, lebih baik saya terlihat seperti orang bodoh yang bahagia, kan?" - Felicia Kala
Mampukah Felicia tetap menjaga senyumnya saat dunia terus memaksanya untuk menyerah?
All Rights Reserved