Di usia ketika kebanyakan remaja sibuk mengejar mimpi, Arnan justru belajar bertahan. Ia memikul ekonomi keluarga sejak ayahnya pergi terlalu cepat, bekerja tanpa diminta, lelah tanpa sempat mengeluh. Sekolah, usaha kecil, kehilangan, kecurangan, dan tuntutan hidup datang bersamaan-menekan dari keluarga, teman, dan lingkungan yang tak pernah benar-benar tahu betapa rapuhnya ia di dalam.
Arnan menyimpan banyak trauma, namun ia memilih diam. Bukan karena ia kuat, melainkan karena ia tahu: terlalu lama menoleh ke belakang hanya akan membuatnya berhenti melangkah. Meski begitu, lingkungan terus menyeretnya kembali pada luka-luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.
Dalam kejujuran yang sunyi, ia berjalan tanpa panggung. Dalam doa yang tidak keras, ia bertahan. Tidak semua perjuangan berakhir dengan kemenangan, dan tidak semua kelelahan meminta belas kasihan.
Tuhan, Aku Masih Berjalan adalah kisah tentang iman yang tidak berteriak, tentang lelah yang tetap sujud, dan tentang seseorang yang memilih jujur-meski hidup tak selalu adil.
Karena terkadang, bertahan saja sudah merupakan bentuk keberanian tertinggi.
All Rights Reserved