"Sekarang, waktunya pembasuhan," kata Sabda pelan. "Celupkan tanganmu, Laras."
Saka bergerak cepat, mencengkeram tangan Carissa dan memaksanya membenamkan telapak tangannya ke dalam cairan merah yang hangat itu. Carissa memekik, namun Saka justru menarik tubuh Carissa mendekat ke arahnya.
Saka mulai mengusapkan darah dari tangan Carissa ke wajah gadis itu, lalu ke lehernya. Namun gerakan itu berubah menjadi sesuatu yang lain. Tangan Saka yang kasar dan dipenuhi bekas luka bakar mulai merayap ke arah dada Carissa, mengusapkan darah di balik kain gaun putihnya.
"Laras..." desah Saka, wajahnya yang hancur mendekat ke leher Carissa. Ia menghirup aroma darah dan melati di kulit Carissa dengan rakus. Ia mulai menciumi leher Carissa dengan beringas, meninggalkan noda merah di kulit pucat gadis itu.
Sabda tidak menghentikannya. Ia justru mendekat dari arah belakang, memeluk pinggang Carissa dan menempelkan wajahnya di bahu Carissa yang terbuka. "Dua puluh tahun kami merindukan sentuhan ini," bisik Sabda. Tangannya mulai membuka ikatan tali di punggung gaun Carissa, membiarkan kain itu melorot sebagian.
Carissa memejamkan mata erat-erat, air matanya bercampur dengan darah di pipinya. Ia merasakan tangan Sabda yang dingin dan tangan Saka yang kasar bertemu di atas kulitnya, menjelajahi tubuhnya dengan cara yang sangat posesif dan menyimpang. Mereka memperebutkan perhatiannya, namun dengan cara yang seolah-olah mereka sedang berbagi satu jiwa yang sama. Saka mulai menciumi bibir Carissa secara paksa, rasa amis darah memenuhi mulut Carissa. Sementara itu, Sabda memberikan gigitan kecil di telinga Carissa, membisikkan janji-janji setia yang mengerikan.