Cerita ini menceritakan seorang anak yang selalu dibeda-bedakan oleh kakaknya, hingga akhirnya Ia memutuskan untuk melakukan hal yang salah...
"Di meja makan ini, kursi selalu lengkap berjumlah empat. Namun bagi mereka, hanya ada tiga piring yang perlu diisi. Aku terbiasa menelan sunyi saat tawa kakak dan kedua orang tuaku memenuhi ruangan, seolah keberadaanku hanyalah dekorasi dinding yang berdebu.
Rumah ini selalu punya cara untuk mengingatkan aku bahwa aku hanyalah figuran dalam potret keluarga kami yang sempurna. Suara tawa Papa, Mama, dan Kak Aruna yang terdengar dari balik pintu ruang makan itu seperti melodi dari dunia lain-dunia yang tidak pernah mengizinkanku masuk."
"Di rumah ini, di balik bayangan koridor yang gelap, aku belajar dua hal: ada jenis sepi yang jauh lebih menyakitkan daripada sendirian di tengah hutan, yaitu merasa asing di rumah sendiri, dan tidak semua orang yang melahirkanmu, benar-benar menginginkan kehadiranmu."
-Ayara kashina sander-
All Rights Reserved