Sudah menjadi suatu hal yang biasa bagi keluarga ningrat soal jodoh yang dipilihkan. Namun, Raden Ajeng Anindya Kirana Hadikusuma bukan bagian dari mereka yang bisa menganggapnya sebagai suatu hal yang biasa. Meski lahir sebagai perempuan bangsawan dari lingkungan istana yang terpandang, nyatanya kehidupan jurnalis muda yang ambisius ini jauh dari itu semua. Tumbuh besar sebagai perempuan bangsawan di tengah kehidupan metropolitan yang bebas, kadang kala membuat Anindya merasa terpenjara dengan tradisi keluarga. Kuno. Begitulah cara Anindya memandang tradisi yang diwariskan secara turun-temurun oleh keluarganya, terutama soal jodoh yang dipilihkan. Kepulangannya ke Solo saat itu mengikat Anindya dalam sebuah perjodohan kuno antara dua keluarga. Eyang Putri, dengan segala kekuasaannya, membuat keputusan sepihak, menjodohkan Anindya dengan seorang laki-laki bangsawan, anak dari penguasa terpandang yang menyandang gelar pangeran dari Pura Mangkujiwa, sebuah istana kadipaten di Kota Solo. Gusti Pangeran Harya Arjuna Reksa Basunjaya, laki-laki yang pernah mengusirnya dengan dingin saat Anindya datang sebagai jurnalis, kini harus ia hadapi sebagai calon suami.
More details