Rafi dengan hidupnya yang monoton... tidak, salah. Ulang lagi.
Rafi dengan isi hatinya yang berantakan... bukan! Bukan seperti itu.
Rafi dengan ketidakjelasan yang mengitarinya... sudahlah. Tidak ada yang cocok.
Lagipula, buat apa menjelaskan hidupnya yang monoton, isi hatinya yang berantakan, ketidakjelasan yang mengitarinya, jika bukan itu yang Rafi rasakan?
Tunggu, rasakan? Memangnya anak itu bisa merasa?
"Kosong" pun tidak pas, "hampa" juga bukan, apalagi "sedih", "takut", "cuek", dan "bla bla bla!" apa pun itu. Karena memang anak dengan darah Pragya ini tidak bisa merasa dan memberi rasa. Emotionless, sebutan jahatnya.
Tetapi, apakah hidupnya benar-benar 'kosong'? Ada apa jika Rafi memang sebegitu 'hampa'? Apakah takdir memberikannya kesempatan untuk mengenal seperti apa "merasa" itu?
-----
Peringatan Sebelum Membaca!
1. Semua peristiwa yang terjadi di dalam cerita Non-Active: Dormant adalah FIKSI BELAKA! Jangan mengaitkan variabel apa pun di dalam cerita tersebut ke dalam dunia nyata.
2. Semua nama atau merek, lokasi atau daerah, orang atau tokoh, hanya digunakan sebagai pemberi kesan realistis dalam cerita ini.
3. Semua nama dan merek yang disebutkan di cerita ini TIDAK DIPROMOSIKAN. Kembali ke poin nomor dua.
4. Cerita ini murni dari imajinasi saya, yang artinya saya sama sekali tidak menjiplak atau meniru karya orang lain.
-----
Ini adalah karangan pertama mawardesu. Jadi, PERHATIAN. Kemungkinan besar ada beberapa salah tulis dan beberapa hal yang membingungkan. Maka dari itu, saya mengharapkan banyak saran dan masukan dari pembaca agar saya dapat mengembangkan tulisan saya.
Saya juga tidak dapat menjanjikan untuk mengakhiri cerita ini dalam kurun waktu dekat, karena keadaan akademis saya (saya masih sma wok) dan kehidupan pribadi saya. Namun, saya akan mengusahakan untuk mengunggah tiap bab cerita minimal sekali seminggu!
Sebelumnya, terima kasih banyak sudah meluangkan waktu kalian untuk membaca "Non-Active: Dormant" ini! Enjoy your visit!
Arstella terbangun di tubuh seorang pelayan di dunia asing yang penuh aturan dan kasta yang tak ia pahami. Setelah dipecat karena kebodohan yang tak disengaja, ia menemukan secarik poster.
Kerajaan Eldoria tengah mencari pelayan untuk dua pangeran. Pangeran Leo, sang pewaris berambut emas yang dicintai rakyat, dan Pangeran Theodore, sang anak berambut hitam yang dibenci istana karena dianggap membawa kutukan. Tanpa pilihan, Arstella melamar pekerjaan itu dan tanpa sadar melangkah ke dalam istana yang tak hanya penuh kemegahan, tapi juga rahasia kelam.
"Dewa aku hanya ingin hidup tenang... aku hanya ingin bekerja," bisik Arstella lirih, seolah sedang memohon pada langit yang bahkan tak menjawab. Namun, jawabannya datang dari bayangan. Suara Theodore terdengar rendah dan berbahaya.
"Sayangnya, kau bekerja pada iblis, Stella."
Ia melangkah mendekat, matanya gelap tak menyisakan belas kasih. "Dan dewa tak punya kuasa atas sesuatu yang sudah menjadi milikku."