Anya menjalani hidup dengan satu kebiasaan: menghilang tanpa pernah benar-benar pergi.
Ia cerdas, tenang, dan terbiasa menyelesaikan masalah yang tidak ingin disentuh siapa pun. Bekerja di balik layar, memikul tanggung jawab tanpa nama, dan mundur sebelum orang lain sempat menyadari seberapa besar beban yang ia tanggung. Ketika sorotan kekuasaan korporat tiba-tiba mengarah padanya, Anya melakukan satu hal yang paling ia kuasai-menjauh.
Namun menjauh selalu punya harga.
Saat konflik tersembunyi mulai terbuka, loyalitas diuji, dan sistem yang tampak rapi mulai retak, Anya dipaksa menghadapi satu hal yang tak lagi bisa ia hindari: dirinya sendiri. Di tengah orang-orang yang percaya pada kemampuannya, bahkan lebih dari yang ia percayai, Anya harus memilih-terus melarikan diri, atau berdiri di tempat yang seharusnya ia tempati sejak awal.
Lalu ada Daniel.
Tenang. Hadir tanpa mendesak. Menjaga tanpa menguasai. Bersamanya, Anya belajar bahwa kekuatan tidak selalu berarti menanggung segalanya sendirian-dan bahwa bertahan bisa menjadi bentuk keberanian yang sama besarnya dengan pergi.
Unable to Hide adalah novel tentang kekuasaan, pilihan, dan keberanian sunyi untuk berhenti menghilang. Tentang seorang perempuan yang akhirnya menyadari bahwa tidak semua beban harus ditahan sendiri, dan tidak semua cinta datang dengan suara keras-beberapa hanya datang, lalu tinggal.
Pernikahan yang didasari atas mandat orang tua membawa Pradipta dan Naysila ke dalam sebuah sandiwara panjang yang melelahkan. Di hadapan Rayden dan Alden, mereka adalah potret orang tua sempurna yang melimpahkan kasih sayang tanpa celah. Namun, begitu pintu kamar tertutup dan suara tawa anak-anak menghilang, kemesraan itu menguap begitu saja, menyisakan keheningan yang menyesakkan dan jarak yang tak kasat mata.
Pradipta merasa dua putra sudah lebih dari cukup untuk meneruskan garis keturunannya, sekaligus menjadi batas akhir dari kewajibannya sebagai suami dalam ikatan tanpa cinta ini. Dia mengunci rapat hatinya, memastikan tidak ada lagi ruang untuk kehadiran baru yang bisa memperumit keadaan. Baginya, komitmen mereka hanyalah sebatas membesarkan anak, bukan untuk saling memiliki seutuhnya.
Naysila bertahan dalam dinginnya sikap sang suami dengan ketulusan yang sulit dinalar, mencoba menelan pahitnya penolakan demi keutuhan rumah tangga yang mereka bangun di atas fondasi rapuh. Namun, takdir memiliki rencana lain yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. Satu kelalaian membawa mereka pada kenyataan yang paling dihindari oleh Pradipta.
Garis dua pada alat uji kehamilan itu menjadi awal dari babak baru yang penuh ketegangan, memaksa keduanya untuk menghadapi rahasia yang selama ini terkubur di balik sumpah yang tidak pernah diinginkan.
[Don't copy my story!]