Satu atap, tujuh rahasia, dan ribuan beban yang tak pernah benar-benar diletakkan di rak sepatu.
Rumah kos ini dihuni oleh tujuh perempuan yang membawa "perang" masing-masing dari luar. Tidak ada pemeran utama, karena setiap kamar menyimpan tragedinya sendiri. Ada yang sedang bertaruh nyawa di bangku kuliah kesehatan, ada yang tercekik deadline kantor hingga kehilangan jati diri, dan ada yang harus mengirim hampir seluruh gajinya ke kampung demi sekolah adik-adiknya.
Di sini, mereka bergelut dengan ekspektasi keluarga yang menghimpit, hubungan asmara yang manipulatif, hingga krisis finansial yang membuat mie instan terasa seperti kemewahan. Konflik sering kali meledak-bukan karena masalah besar, tapi karena lelah yang sudah mencapai ubun-ubun. Hal sepele seperti air galon yang habis atau tumpukan piring kotor bisa menjadi sumbu ledak bagi emosi yang selama ini dipendam.
Namun, di tengah gesekan ego dan kerasnya hidup di kota, mereka menyadari satu hal: mereka adalah satu-satunya pelindung bagi satu sama lain. Cerita ini bukan tentang pencapaian besar, melainkan tentang bagaimana tujuh perempuan bertahan hidup, saling menguatkan saat hancur, dan belajar bahwa kerentanan bukanlah sebuah kelemahan.