Can We Fall in Love in October?

Can We Fall in Love in October?

  • WpView
    Reads 769
  • WpVote
    Votes 110
  • WpPart
    Parts 25
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 29, 2026
Setelah patah hati terbesarnya, Rania mengubah cara pandangnya tentang cinta. Ia memulai kehidupan barunya di Jakarta. Hari-harinya dipenuhi dengan tumpukan naskah, tenggat waktu, dan secangkir kopi. Hidup di tengah hiruk-pikuk kota, Rania menemukan kehangatan dan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya di sebuah library cafe. Di tempat itulah Rania bertemu dengan Ammar. Pertemuan mereka bermula dari obrolan ringan tentang buku yang Rania baca. Sayangnya, pertemuan sederhana itu menjadi kali pertama dan terakhir Rania dan Ammar berjumpa. Mereka tidak sempat bertukar nomor untuk tetap terhubung, hanya nama panggilan dan percakapan yang menjadi pengingat. Rania kehilangan jejak Ammar.
All Rights Reserved
#8
shabeeraa
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nyala Redup di Sudut-Sudut Pabrik [END]
  • HETEROCHROMIA (Koplonya Hidup)
  • The Villain Mother
  • EKSIPIEN
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Nala dan Mas Juragan
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Lukisan Hening (BWC 2020)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Almost Married (END)

Di setiap sudut pabrik, ada banyak cerita yang hanya mampu dipahami oleh sesama buruh. Pekerja harian lepas yang dituntut bertahan hidup dengan gaji UMR, pekerja borongan yang harus mencapai target ratusan hingga ribuan sekadar membawa uang pulang 30 ribu saja, remaja-remaja yang terpaksa mengubur mimpi untuk digadaikan dengan uang 80 ribu sehari, ibu-ibu yang rela tidak membeli makan siang, dan beberapa yang terpaksa menjadi 'antagonis' bagi orang lain demi diakui kepemimpinannya. Nala Risma, perempuan berumur 24 tahun, buruh pabrik, mahasiswa kelas karyawan semester 10, menangkap kisah-kisah sosok bertopeng tebal yang dirinya temui setelah enam tahun menjadi buruh pabrik. Sosok yang tertawa riang dengan lesung pipi cantik, menghampirinya di penghujung waktu lembur kala itu. "Mbak, kalau aku pingin jadi guru...masih bisa, nggak, ya?" Nala dengan mimpinya yang nyaris padam, menemukan lebih banyak mimpi suri di tempat itu. Mimpi seorang ibu, seorang ayah, seorang anak, dan banyak peran yang tengah digeluti orang di sekitarnya. Nyatanya, yang sekarat mimpinya, bukan Nala sendiri. #pensi #eventpensi #pensivol10 #teorikatapublishing

More details
WpActionLinkContent Guidelines