Update Setiap Kamis
A sequel to Operation Heart [Bisa dibaca terpisah, tapi masa iya melewatkan kisah awal mereka yang menggemaskan itu?]
Bagi Clara, Operation Heart sudah selesai sejak ia berhasil menaklukkan Dirga, si psikolog analitis sekaligus pemilik kafe yang kaku dan punya commitment issue, lalu menyeretnya ke pelaminan. Case closed. Happy ending.
Namun, tidak pernah ada akhir yang bahagia karena suka atau tidak, hidup akan terus berputar. Itu yang memancing Dirga menjalankan satu operasi rahasia yang disebutnya ...
Operation Home.
Dirga bertekad membangun "rumah" di mana Clara bisa melepaskan jas putih kebanggaannya, menanggalkan ekspektasi orang tuanya, dan menjadi manusia biasa yang boleh lelah dan menangis semaunya.
Terdengar sederhana. Namun, eksekusinya? Tidak semudah kedengarannya.
Musuh mereka kali ini bukan hanya perasaan yang belum selesai atau keraguan untuk menjalin hubungan, tetapi juga sepaket dengan:
- huru-hara mengurus pernikahan, antara muda-mudi yang tidak suka keributan dan gengsi orang tua dengan standar tinggi,
- jadwal jaga Clara sebagai residen tahun ketiga yang semakin tidak masuk akal saja,
- trauma masa lalu Dirga tentang menjadi kepala keluarga, dan
- tentu saja ... ego dua anak sulung yang sama-sama keras kepala.
Jika Operation Heart adalah tentang menemukan cara terbaik untuk jatuh cinta, maka Operation Home adalah tentang menetap, merawat, dan memupuk cinta agar selalu mekar sempurna.
Selamat datang di bahtera rumah tangga Adirga dan Adelia. Silakan lepas alas kaki (dan ego) di depan pintu, ya.
[TAMAT-LENGKAP]
Vote dan komentar sangat diapresiasi😺
Di kota yang tidak pernah benar-benar tidur, di antara bangunan yang dibangun dari ambisi dan jalanan yang tak pernah mengizinkan langkah berhenti terlalu lama, ada dua jiwa yang terus berjalan bukan karena tahu arah, tetapi karena tak tahu bagaimana cara berhenti.
Prawira Dirja Kartasasmita yang tumbuh terlalu cepat, terlalu sunyi, terlalu terbiasa membungkam isi hati demi memenuhi ekspektasi. Hidup dalam dunia yang menuntut ketegasan tanpa jeda, di mana keberhasilan adalah mata uang, dan kelembutan dianggap kelemahan. Bukti nyata bahkan jiwa yang paling terlatih pun, pada akhirnya, bisa lelah juga.
Rania Dwijaswari Atmadja yang dibesarkan dengan cinta dan tawa keluarga. Anak tunggal yang belajar menjadi dewasa sebelum waktunya, tetapi sering lupa bertanya apakah dirinya baik-baik saja. Di balik senyumnya tersimpan pertanyaan sederhana: akankah ia menemukan dirinya lagi jika terlalu lama beristirahat?
Dalam perjalanan panjang yang penuh kebetulan untuk mencari tempat rehat dari kungkungan ekspektasi, akankah dua jiwa ini menemukan alasan untuk tetap duduk, ataukah pintu untuk pergi terasa lebih mudah untuk dijalani?
#2 di Romansa (30 Juli 2025)