Mentari Senja adalah seorang gadis kecil dari suku pedalaman—mungil, lincah, dan memiliki rasa ingin tahu yang seolah tak pernah habis. Setiap hari ia membombardir ibunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak terduga: tentang hutan, tentang bintang, tentang suara-suara malam. Keingintahuannya begitu besar hingga kerap membuat sang ibu kewalahan mencari jawaban yang memuaskan hati si kecil itu.
Meski bertubuh kecil, Mentari memiliki kemampuan memanah yang mengagumkan. Busurnya selalu mantap, anak panahnya jarang meleset. Namun, bakatnya itu justru kerap mengundang ejekan. Bagi sebagian orang di sukunya, seorang gadis seharusnya bersikap lembut, bukan berlari ke hutan sambil membawa busur seperti para pemburu.
Tetapi Mentari mewarisi sifat keras kepala dari ayahnya. Ia tidak pernah menggubris komentar tajam ataupun cibiran yang diarahkan kepadanya. Baginya, dunia terlalu luas untuk dihabiskan dengan memikirkan pandangan orang lain.
Setiap siang, ketika ibunya menidurkannya sebelum pergi ke ladang, Mentari sering kali pura-pura terpejam. Begitu langkah ibunya menjauh, ia melompat bangun dan bergegas menuju hutan. Di sanalah ia melatih keterampilannya, menantang dirinya sendiri, dan menikmati kebebasan yang tak bisa ia dapatkan di rumah.
Namun, pada suatu hari, latihan diam-diam itu membawanya pada sebuah penemuan yang sama sekali tidak ia duga—sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah dilihat oleh mata seorang anak.
Apa itu sebenarnya? Apa yang diam-diam disaksikan Mentari di tengah hutan itu?
All Rights Reserved