"Di antara sisa abu yang menghitam, ada sebuah nama yang menolak padam. Nama yang kini terukir abadi sebagai luka, cinta, dan kegilaan."
Dua tahun lalu, keluarga Altariksa runtuh dalam satu malam. Kobaran api tidak hanya menghanguskan rumah mereka, tapi juga merenggut Freya Binar Altariksa, gadis kecil pembawa cahaya di keluarga itu. Kepergiannya meninggalkan lubang hitam yang menghisap kewarasan siapa pun yang ditinggalkan.
Christy Angkasa Mahaputri terbangun dari koma dengan ingatan yang pecah. Baginya, Freya tidak pernah pergi. Di matanya yang mulai kehilangan kewarasan, ia masih melihat Freya duduk memegang biola peraknya, tersenyum menanti sekerat roti yang terlambat ia berikan. Christy terjebak dalam delusi-memeluk udara kosong dan bicara pada angin-semua demi menebus rasa bersalah yang membakar jiwanya.
Ael dan Kenzo hanya bisa menatap nanar. Mereka harus memilih: membiarkan Christy hidup bahagia dalam dunia halusinasinya bersama Freya, atau menyeretnya kembali ke realita yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian itu sendiri.
Di tengah reruntuhan rumah yang kini ditumbuhi ilalang, rahasia demi rahasia mulai terkuak dari sisa abu yang ada. Tentang sebuah gudang bawah tanah, sebuah pintu yang terkunci, dan sebuah janji yang terlambat ditepati.
Dapatkan Christy sembuh saat ia sendiri lebih memilih gila demi bisa "melihat" Freya? Atau mampukah cinta keluarga Altariksa bertahan ketika setiap nada biola yang terdengar hanyalah simfoni duka yang menyayat hati?
"Karena beberapa binar tidak ditakdirkan untuk menerangi jalan, melainkan untuk terukir sebagai memori yang tak pernah usai."