Arkan hanyalah seorang arsiparis yang mencintai ketenangan dan bau kertas tua. Baginya, angka dan nama dalam Buku Induk Universitas adalah kebenaran mutlak yang tidak boleh diganggu gugat. Namun, sebuah proyek digitalisasi menyeretnya ke dalam labirin gelap kekuasaan. Ia menemukan sebuah lubang: nomor induk mahasiswa 1702-X kosong secara fisik karena bekas kerokan silet, namun terisi secara digital dengan nama pria paling berkuasa di negeri ini.
Didorong oleh rasa ingin tahu yang berubah menjadi ancaman nyawa, Arkan bersama adiknya, Laras, dan seorang pengacara idealis, Nadia, mencoba mengungkap skandal ijazah palsu tersebut. Dari ruang bawah tanah yang pengap hingga pelarian ke pinggiran kota, Arkan menyadari bahwa ia tidak hanya berhadapan dengan tumpukan kertas, tapi dengan sistem yang siap menghapus siapa pun yang berani menyentuh "debu" di atas nama sang penguasa.
Ketika bukti fisik dibakar dan hukum dikangkangi. Arkan harus memilih, menyerah demi keselamatan keluarga, atau menjadi martir agar kebenaran tetap memiliki suara. Sebuah kisah tentang integritas, pengkhianatan, dan ingatan yang menolak untuk padam.
📍DISCLAIMER:
Cerita ini adalah karya fiksi belaka. Terinspirasi dari pencarian kebenaran yang tak pernah usai. Segala kesamaan nama tokoh, tempat, organisasi, maupun peristiwa adalah murni kebetulan dan digunakan hanya untuk kebutuhan narasi kreatif. Cerita ini tidak bermaksud untuk menyinggung, menyudutkan, atau mencemarkan nama baik pihak, instansi, maupun individu tertentu dalam dunia nyata. Penulis menyusun cerita ini murni sebagai bentuk ekspresi sastra dan imajinasi.
All Rights Reserved