"Dengar, Nak," suara Alexander merendah, hampir berbisik, tetapi terdengar seperti guntur di telinga Keizan. "Mulai hari ini kau akan menjadi anakku. Tidak ada tangisan, tidak ada kenakalan, dan yang paling penting, tidak ada kelemahan. Mengerti?"
Kalimat Alexander adalah awal dari neraka bagi Keizan. Diadopsi oleh keluarga konglomerat ternyata bukan sebuah anugerah, melainkan kontrak mati. Keizan tidak dididik untuk memimpin perusahaan, melainkan dilatih menjadi tameng hidup.
Tugasnya hanya satu; siap mati demi melindungi sang pewaris sejati. Di rumah semegah istana itu, Keizan belajar bahwa menjadi 'anak' berarti siap menjadi senjata yang tidak boleh punya rasa takut. Keizan sadar, bahwa hidupnya bukan lagi miliknya sendiri.
"Hidupku hanya untuk mengabdi pada mereka yang telah membawaku keluar dari neraka itu," - Keizan De Vanderbilt
All Rights Reserved