Pelajaran Sebenarnya

Pelajaran Sebenarnya

  • WpView
    Reads 20
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Dec 24, 2025
WpInfo
Poetry
Puisi Pelajaran Sebenarnya menggambarkan ironi di ruang kelas: tempat ilmu seharusnya dipahami, namun justru dipenuhi kepura-puraan kolektif. Di tengah penjelasan guru yang panjang dan penuh istilah rumit, para murid memilih mengangguk bukan karena mengerti, melainkan karena takut terlihat bodoh dan berbeda. Tokoh "aku" menjadi representasi suara batin banyak siswa-yang tersenyum di luar, tapi kosong di dalam. Tak ada yang berani mengakui ketidaktahuan, hingga keheningan kelas berubah menjadi kesepakatan tak tertulis: lebih aman berpura-pura paham daripada jujur bertanya. Puisi ini menyingkap kenyataan sederhana namun getir-bahwa pelajaran paling nyata di sekolah bukan hanya tentang rumus, melainkan tentang tekanan sosial, rasa takut dinilai, dan seni bertahan dengan berpura-pura. Sebuah kritik halus namun tajam terhadap budaya belajar yang lebih menghargai citra daripada pemahaman.
All Rights Reserved
#136
puisiindonesia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pikul Pilu Pada Pulangmu | ✔
  • Unexpected Married  (YUSION/SIYU  GS)
  • Semua Memukul (✅)
  • kumpulan cerpen kookmin/Jikook (book 2)
  • အချစ်၏ဟန်ပန်-𝑻𝒉𝒆 𝑺𝒕𝒚𝒍𝒆 𝑶𝒇 𝑳𝒐𝒗𝒆(Complete)
  • My Wish
  • Rembulan Yang Sirna
  • My SIN (GXG iam Lesbian)
  • poem

Apa yang sebenarnya manusia inginkan? Apa yang sebenarnya lahir dari kembara tanpa tuju? Menyibak kekosongan, enggan berhenti. Satu dua kali, aku pun melakukannya. "Di mana rumahmu? Apa kamu mengunjunginya akhir-akhir ini?" Semilir mengantar gembiramu pada saat gelisah sejak kemarin menjemputku. Tapak tidak mengambil jeda. Pun bibir bergetar, melengkung pahit. "Tidak. Rumahku tidak dapat aku temukan." Rumahmu mungkin bukan lagi rumah yang hangat. Terlalu terkepul tangis, dusta, dengki, dan segala lara yang dibawa seorang diri. Tanpa kenal lelah meski sebenarnya ingin menyerah. Bersama perasaan-perasaan ini, kamu akan menemukan tempat bersandar. Bersama apa pun yang tertulis di sini, mari temukan kembali dirimu yang mungkin telah lama lupa jalan pulang. *** Seri Dua dari antologi puisi FOUR ©2026

More details
WpActionLinkContent Guidelines