When Our Eyes Meet

When Our Eyes Meet

  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Dec 28, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Di sebuah kota yang sibuk seperti Melbourne, dua orang asing bertemu tanpa rencana-tanpa perkenalan, tanpa kata-kata, bahkan tanpa nama. Rayyan Narendra Sebastian hidup dalam ritme yang teratur: kopi pahit, buku-buku teknik, puisi yang ditulis diam-diam, dan keheningan yang ia pilih sendiri. Aurora Santika Kamila adalah kebalikannya-penuh cerita, penuh rasa ingin tahu, dan selalu menemukan makna di hal-hal kecil. Mereka berasal dari dunia yang berbeda, kampus yang berbeda, dan hidup yang seharusnya tidak saling bersinggungan. Namun takdir bekerja dengan caranya sendiri. Pertemuan singkat di sebuah coffee shop kecil menjadi awal dari serangkaian kebetulan yang terasa terlalu konsisten untuk diabaikan. Tatapan yang berulang. Keheningan yang terasa akrab. Percakapan tanpa nama, tanpa status, tanpa tuntutan. Hubungan mereka tumbuh pelan-tidak lewat janji atau pengakuan, melainkan lewat keberadaan. When Our Eyes Meet adalah kisah tentang dua orang yang memilih untuk tidak terburu-buru. Tentang bagaimana kedekatan bisa lahir dari diam, dan bagaimana takdir tidak selalu datang dengan suara keras-kadang ia hanya duduk di seberang meja, menunggu untuk disadari. Sebuah cerita tentang pertemuan, jarak, dan keberanian untuk membiarkan sesuatu tumbuh apa adanya
All Rights Reserved
#5
melbourne
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Salah Status [END]
  • Nakula
  • Prahara Lamaran [END]
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Kembang Desa
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines