Gema Tak Berbalas

Gema Tak Berbalas

  • WpView
    Reads 2
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Dec 24, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
​"Bagaimana mungkin aku tidak jatuh cinta, jika setiap ayat yang kau lantunkan adalah melodi paling indah yang pernah menyentuh hatiku?" ​Zea Azahra Humaira tidak pernah menyangka bahwa Ruang Tes 07 akan menjadi awal dari patah hati terlamanya. Di sana, di antara aroma buku tua dan ketegangan seleksi masuk SMA, ia mendengar sebuah gema-suara tartil Ahmad Revanza Al-Fatih yang begitu jernih, menghanyutkan, dan menenangkan. ​Satu kelas di X-3 membuat Zea semakin terjebak. Revan adalah segalanya; cerdas, berwibawa, dan memiliki adab yang begitu terjaga. Namun, di balik sikap ramah dan perhatian Revan yang seringkali membuat jantung Zea tak beraturan, ada sebuah tembok besar yang tak kasat mata. ​Bagi Revan, Zea adalah sahabat seperjuangan. Sahabat untuk bertukar pikiran, sahabat untuk menjalankan organisasi, dan sahabat yang selalu ada di baris terdepan. Namun bagi Zea, Revan adalah doa yang selalu ia langitkan secara rahasia. ​Zea belajar satu hal yang paling menyakitkan di SMA Al-Ikhlas: Bahwa sedekat apa pun saf mereka dalam berorganisasi, ia tetap tidak akan pernah bisa menjadi makmum di hidup Revan. ​Karena bagi Revan, Zea hanyalah "teman" yang ia muliakan, bukan "tujuan" yang ia perjuangkan.
All Rights Reserved
#47
jalurlangit
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • Blueprint Pelarian Villain [END]
  • Tsundere Maniak Susu [DITERBITKAN]
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • GRAVARENZO
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • The Time
  • Transmigrasi Ziora
  • GHAIKA (REVISI)
  • I'm Not Just a Figuran

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines