Miles Apart, Still Us

Miles Apart, Still Us

  • WpView
    Reads 4
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadMatureComplete Mon, Jan 26, 2026
Cinta SMA antara kakak kelas dan adik kelas, Haechan dan Lyahan, diuji waktu dan jarak. Dari kampus, perpisahan kuliah, hingga dunia kerja, hati mereka tetap saling memanggil meski kehidupan memisahkan. Lyahan menghadapi tantangan baru di tempat kerja, sementara Haechan menjadi CEO ternama dengan rahasia dan rasa bersalah yang membara. Saat konflik, fitnah, dan profesionalisme menghadang, akankah cinta lama mereka bertahan? Atau justru hilang ditelan waktu?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • De Andere Weg (END)
  • The Villain Mother
  • Chasing Sanara
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Almost Married (END)
  • The Last Yes!
  • Nala dan Mas Juragan

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines