
Kehilangan merupakan pukulan terberat baginya. Jiwa melanjutkan hidup hanya karena masih hidup. Hidupnya sudah berakhir ketika dunia menghukumnya atas kesalahan yang entah apa. Hari demi hari ia lalui demi menuju makin dekat ke hari terakhirnya, hari di mana ia bisa bertemu kembali dengan cintanya, hidup dan matinya. Bahkan saat tahu waktunya mungkin tidak lama, Jiwa sama sekali tidak sedih. Namun, Jiwa dihadapkan dilema ketika tangan-tangan asing itu kembali merengkuhnya. Tangan yang selama ini tak mau menggapainya walau ia minta setengah mati. Jiwa bingung. Akankah ia bisa meneguhkan diri untuk segera pergi? Atau memilih untuk berusaha kembali bersama uluran tangan orang-orang terdekatnya?All Rights Reserved