Elias Samudra adalah lambang kehancuran yang indah. Di sirkuit balap liar, dia adalah raja yang memacu maut. Di koridor kampus, dia adalah Spotlight yang tak tersentuh-kasar, berbahaya, dan memiliki tatapan yang bisa membungkam siapa pun. Elias tidak pernah tunduk pada aturan, apalagi pada manusia.
Namun, bagi Elara, Elias bukan untuk dipuja. Elias adalah bidak catur yang sempurna.
Di balik gaun putihnya yang tampak polos dan senyumnya yang manis, Elara menyembunyikan sisi gelap yang jauh lebih mengerikan daripada perkelahian jalanan Elias. Saat semua orang gemetar melihat amarah Elias, Elara justru mendekat, membiarkan pergelangan tangannya dicengkeram hingga memar, dan berbisik tepat di telinganya.
Elias pikir dia adalah predatornya. Dia salah besar.
Elias mungkin memiliki kekuatan fisik untuk menghancurkan apa saja, tapi Elara memiliki kunci untuk mengendalikan setiap detak jantung dan emosi pria itu. Ini bukan tentang cinta yang menyelamatkan; ini tentang obsesi yang menjerat.
Di dunia Elias yang penuh asap dan bensin, Elara adalah satu-satunya racun yang ia telan dengan sukarela. Dan sebelum Elias menyadarinya, dia sudah berada di bawah kendali penuh gadis itu.
"Patahkan tanganku kalau itu membuatmu merasa menang, Elias. Tapi besok, kamu akan berlutut hanya untuk meminta maaf."
Raras mengenal Marco sebagai teman dari Kakak laki-lakinya dan dengan segala perhatian yang Marco berikan Raras sadar betul jika dirinya sudah jatuh hati kepada pria itu. Semuanya berjalan lancar, ungkapan cinta saling berbalas karena keduanya memiliki rasa yang sama. Namun, ternyata tidak ada yang mudah. Sikap posesif Marco yang awalnya membuat Raras menjadi perempuan paling beruntung karena merasa sangat dicintai tapi pada akhirnya membuatnya jengah juga.