No one is perfect.
Namun di tempat ini, ketidaksempurnaan bukan sesuatu yang boleh terlihat. Di balik dinding sekolah elit yang sunyi dan berkilau, setiap ambisi tumbuh dalam diam, menekan mereka yang berani bermimpi terlalu tinggi. Kesempurnaan bukan tujuan, merupakan tuntutan yang tak pernah diucapkan, namun selalu diawasi.
Mereka datang membawa kecerdasan, prestasi, dan ego yang tak kalah tajam. Enam jiwa terpilih, dipertemukan bukan untuk bersinar sendiri, tetapi untuk diuji bersama.
Competition creates pressure, but collaboration reveals truth.
Ketika mereka dipaksa berjalan berdampingan, batas antara keunggulan dan kehancuran mulai kabur.
Di balik senyum tenang dan pencapaian gemilang, ada ketakutan yang tak terucap. Bahwa menjadi luar biasa sering kali berarti berjalan sendirian. Bahwa kejeniusan tanpa empati hanyalah kesunyian yang berisik.
Sometimes, the brightest minds carry the heaviest weight.
Di dunia yang hanya menyisakan ruang bagi 0,01%, bertahan bukan tentang menjadi yang paling sempurna. Melainkan tentang keberanian untuk tetap merasa, tetap percaya, dan tetap berdiri, meski cahaya terasa semakin jauh.
Because even the strongest minds are human, after all.
There were four. Then she came.
Di Valemont Royal Executive School-sekolah elite tempat anak-anak keluarga paling berkuasa dididik untuk mengendalikan dunia-power bukan tentang ranking. It's about presence.
Empat nama sudah lama memegang takhta sosial: Lucien, Damien, Alaric, Cassian.
Mereka bukan sekadar siswa. Mereka adalah sistem.
Semua berjalan stabil. Teratur. Tak tergoyahkan.
Sampai satu nama muncul:
Celestine.
No loud entrance.
No headline.
Tapi sejak hari itu, bisik-bisik berubah arah.
Tatapan mulai terukur.
Dan even kings... started recalculating their positions.
"She didn't ask for power. The world simply paused-like it had been waiting for her."