Ethan yang bertemu dengan teman lama kakaknya Liza, Belle. Perempuan yang telah merusak pertunangan Liza sekaligus merebut lelakinya.
Ethan begitu membenci Belle hingga tak sadar melihat Belle telah dengan pria lain setelah merebut tunangan Kakaknya dulu.
Pria yang digandengnya bernama Sylus Harper. Pertemuan mereka sama sekali tak mengesankan. Hingga akhirnya Ethan mengambil keputusan untuk merusak hubungan yang begitu Belle banggakan itu.
Merebut kekasihnya yang tak lain CEO muda sekaligus boss dunia bawah yang disegani oleh para pengusaha besar di negaranya.
Ethan yang seorang heteroseksual awalnya begitu percaya diri mendekati Sylus Harper yang selalu dikelilingi oleh banyak wanita.
Dan ketika Sylus menunjukkan ketertarikan, Ethan mulai ragu dengan niat awalnya.
********
Tangannya tetap melingkari pergelangan tangan Ethan. Sementara tangan satunya lagi meraba pinggang Ethan, jari-jarinya hanya menyentuh kulit di bawah bajunya.
"S-Sylus... ini bukan latihan tanding lagi."
"Saat kau menyentuhku, itu bukan latihan tanding lagi," gumam Sylus, suaranya cukup rendah hingga terdengar seperti geraman.
Seluruh tubuhnya memanas di bawah sentuhan Sylus-pinggangnya, pergelangan tangannya, kedekatan yang menekannya ke tali ring tinju.
"Sylus..." Ethan menghela napas.
"Ulangi lagi," bisik Sylus, bibirnya menyentuh kulit Ethan tanpa benar-benar menciumnya.
Sylus memperpendek jarak yang tersisa-akhirnya mencium bibir Ethan dengan ciuman yang dalam, penuh hasrat, dan memukau yang mengakhiri segala kepura-puraan dalam perdebatan.
Ciuman yang membuat Ethan berpegangan erat padanya, jari-jarinya mencengkeram kemeja Sylus, lututnya lemas, tali ring tinju sedikit bergetar karena kedekatan mereka.
Pertandingan sparing telah berakhir.
Pernah nggak sih, lo jatuh cinta gila-gilaan sama pacar lo?
Muji dia setiap hari, ngasih apa pun yang dia mau meski dompet lo kering, pamerin dia di media sosial, sampai bikin semua orang percaya kalau dia itu sempurna.
Vehan juga begitu.
Azkayres Vehan Abimana-cowok yang selalu bangga dengan pacarnya, yakin kalau cintanya tulus, yakin kalau pacarnya juga sayang, setia, dan nggak akan pernah mengkhianatinya.
Tapi semua keyakinan itu runtuh dalam sekejap, waktu dia nggak sengaja mendengar kalimat yang keluar dari mulut orang yang selama ini dia perjuangkan.
"Yang gue suka itu sahabatnya, bukan dia. Lagian mana mau gue sama cowok bodoh dan miskin kayak dia. Kalau bukan karena sahabatnya nempel terus sama dia, mana mau gue deket-deket sama dia?"
Sekejap, dunia Vehan hancur. Luka itu berubah jadi dendam.
Dan dengan senyum tipis, dia berbisik pelan,
"Suka sama sahabat gue? Gue yang bakal bikin jalan cinta lo mampet, sialan."
Vehan tahu satu hal: sahabatnya akan selalu lebih memilih dirinya.
Dan dari situlah permainan dimulai.