Aku melihat. Bukan mendengar, ataupun menebak, tetapi aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Aku tidak marah, aku juga tidak membencinya, hanya ada rasa kebingungan yang terus melandai hatiku. Bingung, kenapa rasaku memilih untuk menetap, sedangkan mataku sudah melihat dengan jelas orang yang aku cinta, mencintai orang lain. Perihal ini, bukan sekali dua kali terjadi. Anehnya, aku masih terjebak di situasi yang sama, bertahan dengan rasa sakit yang tak pernah reda, dan menikmati rindu yang tak pernah bisa terobati. Mulutku selalu berkata 'lupakan dia' tetapi hatiku menolak, seolah ada secuil harapan yang masih memungkinkan, karena setiap aku ingin melupakan, seperti ada yang membisikkan pada telinga ku, 'jangan lupakan dia, dia pasti kembali. dia ga akan jauh, tunggu saja.' Kalimat itu yang selalu membuatku semakin berharap pada sesuatu yang sudah jelas tidak akan pernah terjadi.
- Anasera Levanya A -
Endingnya, Anasera bisa melupakan atau tidak?
Apakah Anasera bisa bersama dengan orang yang ia cintai?
Atau malah, sampai akhir ia tidak bisa melupakan masa lalunya?
Penasaran sama ceritanya?
Let's go baca ceritanya!!
All Rights Reserved