#D' Agler Series 1
Zander Agler lahir sebagai pewaris.
Sejak kecil, hidupnya dipenuhi pelajaran tentang kekuasaan, pengendalian, dan bagaimana memenangkan sesuatu tanpa harus berdiri di garis depan. Ia tidak pernah diajari bagaimana caranya mencintai, hanya bagaimana caranya mendapatkan apa yang ia inginkan. Bagi Zander, emosi adalah sesuatu yang harus dikendalikan, bukan dirasakan. Terlalu banyak perasaan hanya akan membuat seseorang lemah.
Ia terbiasa berjalan setengah langkah di belakang adiknya. Bukan karena ia kalah, tapi karena ia memilih berada di sana. Adiknya berbicara, tampil, dan disebut sebagai pewaris utama. Sementara ia mengamati, menyusun, dan memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.
Di keluarga Agler, ia dikenal sebagai bayangan.
Bukan karena ia tidak terlihat, melainkan karena ia memang tidak ingin terlihat.
Julukan itu tidak lahir dari ketidakhadirannya, melainkan dari caranya bekerja. Zander jarang terlihat, tapi setiap keputusan besar selalu berawal dari pikirannya. Ia bukan wajah keluarga Agler, melainkan arah di baliknya. Ia hidup dengan prinsip sederhana: siapa yang paling berisik jarang menjadi yang paling berbahaya.
Dalam hidupnya, manusia hanyalah alat. Hubungan hanyalah kesepakatan. Dan Perempuan, selama ini, tidak lebih dari hiburan yang datang dan pergi tanpa makna.
Sampai satu nama muncul di tempat yang seharusnya tidak ada.
Alesya.
Putri Rion, orang kepercayaan ayahnya. Seorang gadis yang tumbuh jauh dari dunia gelap keluarga Agler. Terlalu polos. Terlalu bersih. Dan justru karena itu, terlalu berisiko untuk dibiarkan begitu saja.
Awalnya, Zander hanya ingin mengawasinya. Memastikan Alessia tidak menjadi celah yang bisa dimanfaatkan orang lain. Tapi tanpa ia sadari, rasa ingin tahunya berubah menjadi keinginan.
Bukan keinginan yang sederhana.
Melainkan keinginan untuk memiliki.
Dan Zander tahu satu hal dengan sangat pasti, jika ia sudah menginginkan sesuatu, ia tidak akan berhenti sampai itu menjadi miliknya.
18+
Sejak kecil, Claire Luna Azelea hanya mengenal penderitaan. Disiksa keluarganya, dipaksa menjadi pembantu, hingga ia tak pernah merasakan manisnya kebebasan. Malam tragis ketika ia dikejar orang jahat, sebuah truk melaju kencang dan mengakhiri hidupnya.
Bukannya meninggalkan dunia, Claire justru terbangun di tubuh Clara Nalea Kinanti, seorang pembantu yang ternyata telah dinikahkan dengan tuan mudanya, Arion. Awalnya Claire diliputi rasa takut-bagaimana mungkin ia tiba-tiba memiliki suami? Rasa takut itu mereda ketika ia mengetahui bahwa Arion, sang suami, dikenal sebagai seorang gay. Artinya, pernikahan ini hanyalah formalitas, bukan?
Sayangnya, ketenangan itu tidak bertahan lama. Semakin kenal ia dengan Arion, semakin besar rasa curiga yang tumbuh. Tatapan itu... sentuhan itu... sama sekali tidak seperti pria yang dikabarkan mencintai sesamanya. Arion terlalu wajar, terlalu maskulin, seolah menyembunyikan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar label yang selama ini melekat padanya.