Angin Sampaikan Rindu

Angin Sampaikan Rindu

  • WpView
    Reads 64
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Dec 27, 2025
(Inspirasi dari Lagu Sampaikan Rindu-Lyodra Ginting dan ciptaan: Ade Govinda) "Dahulu, langitku berwarna biru. Kini, ia luruh menjadi abu-abu, menanti ketetapan-Nya yang belum mampu kupahami sepenuhnya." Lana percaya bahwa setiap pertemuan adalah takdir, namun ia belum siap menerima bahwa perpisahan adalah bagian dari ujian iman. Sejak Aris pergi membawa separuh jiwanya, dunia Lana seolah membeku. Di atas sajadah yang seringkali basah oleh air mata, ia mempertanyakan tentang arti mengikhlaskan. Ia memanggil nama Aris dalam sunyi, namun hanya gema sepi yang kembali. Ia mencintai rasa sakit itu, karena baginya, perih adalah satu-satunya tali yang masih menghubungkannya dengan bayang-bayang masa lalu. Di tengah perjuangannya melawan sesak di dada, Lana belajar bahwa rindu yang paling indah adalah rindu yang dibawa sujud kepada Sang Pemilik Hati. Bahwa setiap rintik hujan adalah rahmat yang mewakili kalbu, dan setiap embusan angin adalah kurir doa yang ia titipkan untuk penduduk langit. Kepada angin, ia sampaikan rindu. Kepada Tuhan, ia serahkan seluruh pilu. Akankah Lana menemukan kembali warna birunya, ataukah ia akan selamanya terjebak dalam cinta yang ia peluk melalui luka? ~ ~ ~ "Mengenangmu sudah pasti sakit, namun di atas sajadah ini, kucintai sakit itu sebagai caraku belajar arti sabar."
All Rights Reserved
#835
wattpadindonesia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • GHAIKA (REVISI)
  • Transmigrasi Ziora
  • Blueprint Pelarian Villain [END]
  • GRAVARENZO
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • I'm Not Just a Figuran
  • The Time
  • Tsundere Maniak Susu

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines