Ia pernah menutup hati terlalu lama, membiarkan luka lama mengendap sebagai pelajaran. Hingga suatu hari, seorang laki-laki hadir-perlahan, sederhana, dan tanpa janji. Kehadirannya menjadi kebiasaan baru, kadang terasa seperti obat yang menenangkan, kadang justru membuka kembali ingatan akan rasa sakit yang belum sepenuhnya sembuh.
Perempuan itu mencoba membuka hati, memberi ruang kecil bagi harapan untuk kembali merasakan suka. Namun di balik hangatnya kebersamaan, ada rasa abu-abu yang tak bisa ia abaikan. Laki-laki itu mudah dekat, mudah terbuka, dan tampak sama nyamannya berbagi perhatian dengan perempuan lain. Sebuah kenyataan pahit yang harus ia telan dalam diam.
Takdir seolah bercanda dengan mempertemukan mereka setiap hari, dalam satu divisi pekerjaan yang sama. Jarak yang tak bisa dijauhkan, perasaan yang tak bisa sepenuhnya didefinisikan. Antara bertahan dengan peran sebagai pilihan kedua, atau pergi demi menjaga harga diri-perempuan itu harus memilih.
Karena tak semua yang hadir untuk menyembuhkan, datang untuk benar-benar memilih.
Karina terbangun menjadi ibu protagonis dan antagonis sekaligus.
Untungnya, ia terbangun di tubuh wanita muda nan kaya-raya dan sebelum alur novel dimulai, yaitu pada saat protagonis berusia 5 tahun.