Lana adalah seorang dokter yang berhasil lulus dan diterima dalam program residensi di sebuah rumah sakit ternama.Sejak awal kuliah kedokteran,ia sebenarnya bercita-cita menjadi dokter spesialis anak. Namun,hasil seleksi dan keadaan membawa Lana ke jalur yang sama sekali tidak ia bayangkan : residensi bedah
Keputusan itu membuat Lana merasa bingung dan tertekan.Bedah bukan bidang yang ia sukai.Bahkan selama masa koas,Lana sempat mengalami kejadian yang hampir berakibat fatal.ia hampir melakukan kesalahan saat membantu tindakan bedah.Beruntung,pasien tersebut masih dapat diselamatkan. Sejak saat itu,rasa takut terhadap bedah terus menghantui dirinya
Meski demikian,Lana tetap berhasil menjadi dokter karena satu hal,ia tidak pernah melupakan kejadian kelam di masa lalunya.Pengalaman itu membuatnya lebih berhati-hati,disiplin,dan selalu memeriksa ulang setiap tindakan yang ia lakukan
Kini, sebagai residen bedah tahun pertama, Lana harus menghadapi tekanan yang jauh lebih besar.Jam kerja panjang,tuntutan dari senior,serta keraguan pada dirinya sendiri menjadi bagian dari kesehariannya
Apa lana bisa bertahan sebagai Residen Bedah???
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Kalo kaliann penasaran sama cerita lana selama menjadi residenn,baca yukkk 😁
"Mi, kemarin Pak Kades dan istrinya datang ke rumah. Dia ingin meminang kamu untuk menjadi istri anaknya," ucap Mama yang membuatku seketika langsung menghentikan kunyahan.
"Mama kalau bercanda jangan pas lagi makan dong, nggak lucu kalau tiba-tiba aku tersedak terus meninggal," ucapku sambil tertawa.
"Mama serius." Aku langsung melihat wajah mamaku, dari matanya aku bisa melihat keseriusan. Mendadak aku jadi merinding.
"Jangan bercanda mulu dong, Ma, mana mungkin Pak Kades tiba-tiba melamar aku buat anaknya. Lagian aku nggak kenal sama anaknya Pak Kades," ucapku masih menyangkal kalau yang mamaku katakan bukanlah candaan.
"Mama nggak lagi bercanda, Mi, Mama serius."
Tenggorokanku serasa tercekat ketika mendengar perkataan Mama, "Ma, jadi ini serius?" Mama mengangguk dan itu membuat tubuhku seketika melemas.
"Apa ini alasan Mama minta aku cepat-cepat pulang?" tanyaku yang dibalas anggukan oleh Mama.
"Terus Mama jawab apa? Mama nolak 'kan?" tanyaku mulai was-was.
"Ayah kamu sudah menerima, katanya nggak enak menolak tawaran Pak Kades. Kapan lagi 'kan kita bisa besanan sama orang terpandang?" Rahangku hampir saja lepas dari tempatnya saat mendengar jawaban Mama.
"Nanti malam Pak Kades datang lagi ke sini sekalian bawa anaknya, mereka mau melamar kamu secara resmi." Aku semakin gila setelah mendengar sambungan perkataan Mama.